Di Bali, Program KB Dikhawatirkan Mengancam Budaya Warisan Leluhur, Nyoman & Ketut Kian Langka

Gubernur Bali Wayan Koster - Antara
18 Maret 2019 23:57 WIB Ema Sukarelawanto News Share :

Harianjogja.com, DENPASAR— Keberhasilan program Keluarga Berencana yang menyebabkan penurunan laju pertumbuhan penduduk di Bali dikhawatirkan mengancam budaya warisan leluhur.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan tren pertumbuhan penduduk di Pulau Dewata dalam lima tahun terakhir tergolong stagnan.

Penurunan laju pertumbuhan pendduduk yang di daerah lain merupakan prestasi justru membuat Koster was-was dan cemas.

“Karena mengikuti program KB kebanyakan warga hanya punya 2 anak. Ini justru kurang membahagiakan bagi saya, karena tak ada lagi nama Nyoman dan Ketut. Jadi, ada bagian dari warisan leluhur kami ini hilang,” katanya, saat Rakorda Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali, Senin (18/3/2019). 

Menurut Koster jumlah kelahiran di Bali dan warga yang meninggal hampir berimbang di seluruh kabupaten.

Ia berpendapat sebenarnya Mars Keluarga Berencana tidak menyinggung soal pengurangan jumlah atau banyak anak.

Bagi dia yang penting adalah bagaimana membangun keluarga yang sehat, cerdas, kuat, dan sejahtera.

Koster mengakui program keluarga berencana dua anak di Bali relatif berhasil, tetapi yang menyedihkan ke depan tak ada lagi nama anak ketiga dan keempat yakni Nyoman dan Ketut.

Ia berencana mengubah paradigma kependudukan di Bali dengan tidak lagi fokus pada pengurangan jumlah anak, tetapi bagaimana membangun keluarga berkualitas dan direncanakan dengan baik. 

Ia berharap dengan paradigma ini melahirkan generasi yang sehat, cerdas, kuat, berdaya saing, produktif dan berkontribusi.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Catur Sentana melaporkan laju pertumbuhan penduduk Bali menurun dari 2,31% pada 2010 menjadi 2,14% pada 2017. 

Selain itu terjadi pula penurunan angka kelahiran total dari 2,3 pada 2012 menjadi 2,1 per wanita usia subur pada 2018. 

“Penurunan ini selain sebagai dampak penggunaan kontrasepsi yang telah mencapai 54,8% bagi pasangan usia subur, juga meningkatnya media usia kawin pertama perempuan dari 21,9 tahun menjadi 22,1 tahun,” ujarnya.

Sumber : Bisnis.com