Tol Lintas Selatan, Proyek Ambisius Baru dari Sukabumi ke Jogja

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Nicolous Irawan
12 Februari 2019 20:25 WIB Rivki Maulana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Proyek tol Trans-Jawa ternyata tak membuat pemerintah berpas diri. Sambil meneruskan sisa ruas hingga ujung timur Jawa, proyek jalan tol di lintas selatan disiapkan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan kementerian yang dia pimpin  sedang menyiapkan lelang jalan tol Cileunyi—Garut—Tasikmalaya. Jalan tol tersebut, kata Basuki, menjadi prioritas karena melintas kantong-kantong ekonomi di Jawa Barat.

“Prioritas kami di Cigatas [Cileunyi—Garut—Tasikmalaya]. Bogor juga akan ikut [lintas Selatan), dari Bogor, Cianjur, Bandung. Saat ini masih proses penlok [penetapan lokasi] Cigatas,” ujar dia di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Proyek jalan tol Cigatas merupakan bagian dari rencana pembangunan jalan tol Trans-Jawa lintas selatan. Ada tujuh ruas jalan tol yang akan dibangun di lintas ini, mulai dari Sukabumi hingga Jogja sepanjang 456 kilometer (km).

Ruas tol Bogor—Ciawi—Sukabumi (Bocimi) sepanjang 54 km menjadi titik awal pengembangan jaringan jalan tol ini. Di ruas tersebut, seksi 1 sejauh 15,35 km telah beroperasi menyusul ruas Padalarang—Cileunyi.

Secara berurutan, setelah Bocimi, rencana pembangunan jalan tol berlanjut ke ruas Sukabumi—Ciranjang (29 km), Ciranjang—Padalarang (28 km), Cileunyi—Garut—Tasikmalaya—Cilacap (184 km), Solo—Jogja—Kulonprogo (92 km), dan Jogja—Bawen (68 km).

Sementara itu, di lintas utara, jaringan jalan tol kini tinggal menyisakan ruas Probolinggo—Banyuwangi (174 km).

Menteri Basuki menyebutkan ruas Pasuruan—Probolinggo (31,30 km) tengah menjalani uji laik operasi sehingga siap dioperasikan. Pada akhir 2018, jalan tol Trans-Jawa sepanjang 933 km telah tersambung, mulai dari Merak hingga Pasuruan.

Secara khusus, lahan untuk jalan tol sepanjang 70 km di ruas Probolinggo—Banyuwangi sudah bisa dibebaskan. Trase di ruas ini tetap seperti perencanaan awal karena paling optimal dan efisien.

“Kalau ke selatan, itu harus membangun terowongan, lebih mahal. Di trase ini kami koordinasi dengan TNI karena ada tempat latihan militer,” kata Basuki.

Secara umum, dalam periode 2015-2018, panjang jalan tol baru mencapai 782 km. Tahun ini, 895 km juga ditargetkan beroperasi sehingga panjang jalan tol baru yang dibangun selama lima tahun bakal mencapai 1.677 kilometer.

Kurang Memadai

Akademisi menilai pembangunan infrastruktur yang berjalan masif sejak 4 tahun silam perlu terus dipacu karena ketersediaan infrastruktur saat ini kurang memadai sehingga menyebabkan biaya logistik tinggi.

Ketua Pusat Studi BUMN Universitas Prof. Dr. Moestopo Tjipta Purwita mengatakan belanja pemerintah tidak pernah mencapai 7% dari produk domestik bruto (PDB) setelah reformasi pada 1998.

Dia mengakui bahwa anggaran pemerintah secara nominal memang mengalami peningkatan selama 4 tahun terakhir. Namun, pendanaan dari anggaran pemerintah saja tidak cukup.

“Infrastruktur ini tidak boleh berhenti, siapa pun figur [pemimpinnya]. Pembangunan harus berkelanjutan karena [berdasarkan] long term planing,” jelasnya.

Tjipta menerangkan kinerja logistik sudah mengalami sedikit perbaikan yang tercermin dari Indeks Kinerja Logistik (IKL) Indonesia yang mengalami penaikan peringkat dari 63 ke 42 pada 2018. Secara khusus, kinerja infrastruktur Indonesia dalam IKL mengalami peningkatan cukup pesat, dari 2,65 pada 2016 menjadi 2,89 pada 2018.

Rektor Unika Atma Jaya A. Prasetyantoko menilai pembangunan infrastruktur menjadi kunci peningkatan daya saing yang saat ini terbilang masih rendah.

Komitmen pembangunan infrastruktur berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tidak tergantung pada konsumsi domestik.

Soal pembangunan infrastruktur untuk menggenjot roda perekonomian, Tiongkok layak menjadi contoh. Pernah mengalami tragedi kelaparan, Tiongkok kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia