Pengamat Nilai Cemara Udang Efektif Jadi Benteng Tsunami

Ilustrasi tsunami. (JIBI/REUTERS - Kim Kyung/Hoon)
11 Februari 2019 21:17 WIB Herlambang Jati Kusumo News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Rencana penggunaan tanaman cemara udang di sekitaran bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dinilai cukup efektif untuk menahan dampak jika terjadi Tsunami.

Kepala Pusat Studi Bencana UGM, Djati Mardianto mengungkapkan kombinasi antara tanggul alami dan vegetasi cemara udang bisa digunakan dan dinilai kombinasi itu cukup efektif dalam mengurangi jangkauan gelombang Tsunami yang terjadi jika Magnitudo diatas 8.

“Menguranginya bisa sampai 50% jangakuannya. Jadi lumayan efektif itu,” ucap Djati, Kamis (7/2/2019).

Dikatakannya tanaman cemara udang memiliki keunggulan kelenturan jadi bisa menahan beban cukup besar, karena dimungkinkan jika ada Tsunami tidak hanya membawa air, namun juga sampah atau material gerusan.

“Cemara udang relatif bisa menahan karena kelunturan biasanya kalau yang lain patah dahannya relatif kuat dan lentur, akaranya juga lebih kuat menancapnya, apalagi kalau berlapis-lapis jika lepas depan masih ada belakangnya. Morfologi cukup bagus, seperti pagar,” katanya.

Sementara untuk tanggul alami itu bisa dari sisa galian pasir di sekitar pantai. Kombinasi lebih baik untuk mengurangi dampak itu bisa dilakukan juga dengan penanaman mangrove di depan, karena jika langsung cemara udang juga tidak akan kuat dengan air garam.

Dikatakan Djati belum ada penghitungan detail berapa kira-kira cemara udang yang diperlukan, menurutnya terpenting di kawasan bandara tersebut setidaknya seluruhnya dapat ditanami, akan lebih baik jika ada beberapa lapis. Bisa juga lebih luas, namun kembali lagi pada estetika jika terlalu luas, dan ketersediaan lahan.

Djati juga mengingatkan potensi bencana di sekitaran bandara tidak hanya kemungkinan Tsunami, namun juga ada potensi banjir jika melihat kejadian terdahulu.

Sangat dimungkinkan dengan adanya pembangunan bandara, akan diikuti pembangunan-pembangunan lainnya di kawasan sekitar. Oleh karenanya ia mengingatkan pula untuk memperhatikan aliran-aliran air yang ada disana untuk tetap alami.

“Sekarang itu kalau tidak terpaksa bukan normalisasi tapi naturalisasi, jadi sealami mungkin. Dalam kondisi tertentu boleh saja tetapi kalau masih memungkinkan alami seperti apa kita ikuti saja,” ucapnya.