Venezuela Terancam Perang Saudara, Amerika Minta Warganya Pergi

Presiden Majelis Nasional Venezuela Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela, melawan Presiden Nicolas Maduro. Deklarasi dilakukan berbarengan dengan peringatan 61 tahun berakhirnya kediktatoran Marcos Perez Jimenez di Caracas, Venezuela, Rabu (23/1/2019). - Reuters/Carlos Garcia Rawlins
25 Januari 2019 13:25 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak warganya meninggalkan Venezuela setelah kepala angkatan bersenjata negara di Amerika Latin itu memperingatkan kemungkinan perang saudara.

 Krisis di Venezuale dipicu ketidakpuasan terhadap pemerintahan Nicolas Maduro. Pemimpin oposisi, Juan Guaido kemudian mendeklarasikan diri sebagai Presiden Sementara Venezuela. AS menyatakan dukungannya terhadap Guaido dan menyebut Maduro tak lagi sah memimpin Venezuela.

Dalam pidatonya, Menhan Venezuela, Vladimir Padrino, menuduh oposisi Venezuela yang dipimpin oleh Juan Guaido, Amerika Serikat dan sekutu regional seperti Brasil meluncurkan upaya kudeta terhadap Maduro.

Upaya itu disebut sebagai langkah berisiko membawa kekacauan dan anarki.

“Kami di sini untuk menghindari, dengan cara apa pun konflik di Venezuela. Bukan perang saudara, perang saudara yang akan menyelesaikan masalah Venezuela. Itu adalah dialog," kata Padrino sebagimana dikutip Theguardian.com, Jumat (25/1/2019).

Dalam satu gertakan terhadap pihak oposisi Venezuela yang baru bangkit, Padrino menyatakan bahwa rakyatnya memberikan dukungan tak tergoyahkan kepada Nicolás Maduro.

"Kami anggota angkatan bersenjata tahu betul konsekuensi [perang], hanya dari melihat sejarah kemanusiaan, abad terakhir, ketika jutaan manusia kehilangan nyawa mereka," tambah Padrino, diapit oleh para petinggi angkatan bersenjata Venezuela.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia