Advertisement
Rusia Ancam Kembangkan Senjata Nuklir Baru jika AS Langgar Kesepakatan
Presiden AS Donald Trump (kiri) menerima bola sepak dari Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dalam konferensi pers bersama setelah keduanya bertemu membahas sejumlah isu di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7). - Reuters - Grigoriy Dukor
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA -Apabila AS menarik diri dari traktat persenjataan nuklir jarak menengah yang disepakati pada era Perang Dingin maka Rusia akan mengembangkan peluru kendali jenis baru. Hal itu diungkapkan langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Komentarnya disampaikan setelah NATO menyampaikan tuduhan pada hari Selasa bahwa Rusia telah melanggar Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF). Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1987 oleh AS dan Uni Soviet tersebut melarang kedua negara mengembangkan misil jarak dekat dan menengah. Tetapi, Putin mengatakan tuduhan tersebut hanyalah alasan yang dipakai AS agar dapat keluar dari kesepakatan tersebut sebagaimana dikutip CNN.com, Kamis (6/12/2018).
Advertisement
Lewat pernyataan di televisi, pemimpin Rusia itu mengatakan banyak negara lain telah mengembangkan senjata yang dilarang traktat INF.
"Sekarang sepertinya rekan kami di Amerika meyakini keadaan telah berubah banyak sehingga (mereka) juga harus memiliki senjata jenis itu," katanya.
BACA JUGA
"Apa reaksi kami? Sederhana saja, terkait dengan kasus ini, kami juga akan melakukan hal yang sama," tegas Putin.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya mengatakan negaranya akan keluar dari traktat karena aksi Rusia. Para pengamat memandang senjata jenis ini adalah pilihan yang lebih murah dibandingkan kekuatan konvensional.
Apa kata NATO?
Pada Selasa (4/12/2018), aliansi militer Barat secara resmi menuduh Rusia telah melanggar traktat.
"Kami menyimpulkan Rusia telah mengembangkan dan mempertahankan sistem misil, 9M729, yang melanggar traktat INF dan merupakan risiko signifikan bagi keamanan Eropa-Atlantik," demikian isi pernyataan para menteri luar negeri NATO.
Pernyataan tersebut menyebutkan negara-negara anggota "sangat mendukung" klaim AS bahwa Rusia telah melanggar pakta dan mendesak Moskow untuk "segera kembali mematuhi secara menyeluruh dan bertanggungjawab".
Berbicara setelah dikeluarkannya pernyataan NATO, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan Rusia memiliki waktu selama 60 hari untuk kembali mematuhi traktat atau periode dimana Amerika akan menunda kepatuhannya.
"Selama 60 hari ini kami masih tidak akan menguji, membuat atau menempatkan sistem apapun, dan kami akan mengamati apa yang terjadi selama periode 60 hari tersebut," katanya.
Rusia telah berkali-kali menyangkal bahwa pihaknya melanggar traktat Perang Dingin. Tahun 2014, Presiden Barack Obama menuduh Rusia melanggar Traktat INF setelah diduga telah menguji misil penjelajah yang diluncurkan dari darat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Hujan Deras dan Angin Kencang Ganggu 15 Penerbangan di Juanda
- Iran Sebut AS Minta Bantuan Negara Regional Amankan Selat Hormuz
- WHO: 14 Tenaga Medis Tewas dalam Serangan Fasilitas Kesehatan Lebanon
- Trump Sebut Banyak Negara Siap Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
Advertisement
Berangkat dari Jogja, 1.800 Pedagang Ikuti Mudik Bareng Warmindo 2026
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Penipuan Digital Tembus 432 Ribu Kasus, Dokumen Palsu Marak
- Persija vs Dewa United, Macan Kemayoran Wajib Menang
- KPK: Jika Tak Tertangkap, Bupati Cilacap Berpotensi Memeras Lagi
- Idulfitri 1447 H di Australia Ditetapkan Jatuh pada 20 Maret 2026
- Tanpa Messi, Inter Miami Ditahan Imbang Charlotte, Mascherano Diusir
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
- KPK Ungkap THR Forkopimda dari Pemerasan Bupati Cilacap
Advertisement
Advertisement








