Jogjarockarta 2018: Merayakan Pesta Rock dengan Semangat Anti-kebencian

Personel grup band Megadeth Dave Mustaine (dua kanan), Dirk Verbeuren (dua kiri), Kiko Louleiro (kiri) danDavid Ellefson (kanan) menandatangani gitar yang akan dilelang untuk korban bencana Palu saat jumpa pers jelang konser Jogjarockarta, Jumat (26/10/2018). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
27 Oktober 2018 06:25 WIB Galih Eko Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, JOGJAJogjarockarta tahun ini mengusung tema No Place for Hate. Indra Lesmana mengajak penonton merayakan pesta rock di Stadion Kridosono, Sabtu (27/10/2018) ini, dengan semangat anti-kebencian. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Galih Eko Kurniawan.

Siang hari di poolside Hyatt Hotel, Jumat (26/10/2018), belasan musikus berkumpul. Ada Arian 13 dari Seringai, Otong Koil, Eet Sjahranie dari Edane, dan Ahmad Albar, vokalis Godbless, yang datang sedikit terlambat.

Di tempat itu, mereka berkumpul mengikuti agenda jumpa pers Jogjarockarta 2018. Disokong Bank Jateng sebagai sponsor utama Jogjarockarta, siang itu mereka hadir, berangkulan, berfoto bersama serta berbincang seru, sebelum maju ke panggung kecil yang disiapkan sebagai arena jumpa pers. Sebelum mereka maju satu per satu, terlebih dulu promotor Jogjarockarta, Anas Syahrul Alimi, memaparkan agenda pertunjukkan musik roknya.

Rajawali Indonesia Communication, selaku promotor, di hari-hari terakhir sebelum gelaran pada Sabtu ini menyematkan tema penting, yakni No Place for Hate. “Pesan penting bahwa tidak ada tempat untuk kebencian yang ingin disampaikan kepada para penonton. Jogja itu damai dan aman,” ujar Anas, kemarin.

Setidaknya itu yang ingin disampaikan Anas dengan kedatangan Megadeth. Lewat Megadeth pula, ada pesan penting Jogja sebagai tempat yang aman untuk dikunjungi, banyak tempat pelesir yang layak dikunjungi dan paling penting, Jogja aman untuk festival musik rok.

Bagi Arian, mantan vokalis band hardcore Puppen, Jogjarockarta menunjukkan Jogja punya festival musik cadas, yang selama ini dikuasai Jakarta ataupun Bandung dan Bali. Uniknya lagi, massa rok di Jogja garang-garang. “Garang-garang tetapi sopan,” ujarnya.

Indra Lesmana, yang selama ini sudah lekat dengan musik jaz, mau tampil beda dengan mengusung komposisi rok di Jogjarockarta. Dia melihat semangat merayakan rok dalam sebuah acara yang dihadiri nama-nama besar di dunia rok Indonesia, serta ada Megadeth. Pada Sabtu ini, Indra akan tampil bersama Indra Lesmana Project (ILP). “Mari merayakan pesta rok dengan semangat anti-kebencian,” ujar dia.

Selesai urusan jumpa pers dengan artis Indonesia, tepuk tangan jurnalis mengiringi keluarnya personel Megadeth dari balik pintu hotel menuju panggung jumpa pers. Namun, sifat moody pentolan Megadeth, Dave Mustaine, mendadak muncul ketika mik yang dia gunakan mati-mati. Sampai berganti tiga kali, tetap saja miknya mati-mati.

“Kenapa mik yang saya gunakan tak lancar? Apa kabar semua. Senang bisa hadir di sini [Jogja]. Sampai jumpa di arena konser besok [hari ini],” ujarnya sambil berteriak, tanpa mau menerima sodoran mik dari pembawa acara.

Untung saja, kekecewaannya tak berlarut-larut. Dia masih mau menjawab beberapa pertanyaan dari pembawa acara maupun jurnalis. “Atmosfer penonton di sini [Indonesia] cukup bagus. Kami [Megadeth] sudah berkali-kali main di Indonesia,” tutur mantan personel Metallica itu.

Menutup agenda jumpa persnya, Dave tak lupa membubuhkan tanda tangan di dua gitar v-shape-nya yang pada Sabtu ini akan dilelang amal di acara Jogjarockarta. “Semoga Tuhan memberkati kalian semua,” ketika mengomentari alasan dirinya mau menyerahkan gitar untuk dilelang amal.

Anas mengaku gitar milik Dave yang akan dilelang itu, seluruh dana yang didapat akan disumbangkan kepada korban bencana gempa di Sulawesi Tengah. Sembari beramal, penonton tetap bisa berpesta rok di Kridosono, tentunya dengan semangat anti-kebencian.