KAMPUS JOGJA : Dibawah Kemenristek & Dikti, Inilah Perubahan ISI Yogyakarta

Logo Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja (ISI Jogja)
19 Mei 2015 15:40 WIB Arief Junianto News Share :

Kampus Jogja ISI Yogyakarta kini dituntut menghasilkan sdm yang siap kerja.

Harianjogja.com, BANTUL-Berubahnya wadah dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ke Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, membuat pihak ISI Yogyakarta pun harus berupaya keras mengikuti target dan visi kementrian barunya itu.

Dengan berada di bawah wadah Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, ISI Yogyakarta dituntut untuk menghasilkan output sarjana seni yang siap terjun di dunia industri kerja. Tuntutan lulusan ISI Yogyakarta saat ini memang lebih pada efektifvitas keilmuan yang tak hanya sekadar merayakan kesuksesan alumni melalui karyanya saja, tapi juga diukur sejauh mana karya itu memiliki nilai jual yang bersifat ekonomis.

"Tapi bukan berarti lantas membuat lulusan kami terjerembab di dalam konteks komodifikasi karya," terang Rektor ISI Yogyakarta, M. Agus Burhan, Senin (18/5/2015) siang di Gedung Rektorat Baru ISI Yogyakarta.

Menurutnya, paradigma konvensional mahasiswa yang menganggap seni adalah konservasi konsep adiluhung semata sudah seharusnya diubah.

Baginya, seni harus lebih memiliki nilai ekonomis. Untuk itu, ada beberapa hal yang telah dilakukannya. Di antaranya adalah evaluasi ulang kurikulum berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), hingga perluasan dan pendirian beberapa program studi (prodi baru).

Beberapa prodi baru yang dimaksudkannya antara lain Jurusan Musik Pendidikan, Penciptaan Musik dan Penyajian Musik di Fakultas Seni Pertunjukan, serta Jurusan Tata Kelola Seni di Fakultas Seni Rupa.

"Harapannya, prodi-prodi ini, 2017 mendatang bisa didorong menjadi fakultas baru," tuturnya.