HASIL UN 2015 : Zulfa Juara Provinsi

Juara UN online 2015, Zulfa Ainun Naim (JIBI/Harian Jogja - Holy Kartina N.S.)
19 Mei 2015 01:20 WIB News Share :

Hasil UN 2015 terbaik di DIY diraih siswa Kulonprogo.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Ujian nasional selama ini menjadi momok mengerikan bagi setiap pelajar, khususnya di tingkat sekolah menengah atas dan kejuruan. Namun, tahun ini justru tak lagi demikian, bahkan prestasi yang dicapai pelajar semakin baik.

Pada pelaksanaan ujian nasional tahun ini, SMK Negeri 1 Pengasih berhasil meluluskan 315 siswanya. Satu siswa sekolah ini, bahkan menjadi juara ujian nasional se DIY dengan jumlah nilai UN mencapai 386. Zulfa Ainun Naim, 17, gadis berhijab ini tak menyangka telah meraih juara dalam ujian nasional berbasis computer based test (CBT).

Zulfa begitu dia disapa, semula begitu khawarir dan cemas saat melaksanakan ujian nasional. Untuk pertama kalinya, ujian menggunakan sistem komputer dilakukan. Kecemasan akan kesalahan sistem saat pelaksanaan, terus menghantui Zulfa selama mengerjakan soal. Namun, dia tidak pantang menyerah dan terus fokus mengerjakan soal.

“Awalnya, khawatir karena ini sistem UN yang pertama kali buat saya. Namun, ternyata ujian ini justru lebih mudah dilakukan dibandingkan menggunakan paper based test,” ujar Zulfa saat dihubungi Harianjogja.com, Minggu (17/5/2015).

Siswi jurusan Akuntansi 2 ini mengaku, selama pelaksanaan ujian semua berjalan lancar. Tak heran dia menjadi salah satu siswa yang meraih nilai 100 untuk mata pelajaran matematika. Zulfa menjadi salah satu diantara 39 siswa lain di sekolah ini yang mendapatkan nilai sempurna pada mata pelajaran tersebut.

Sekolah kejuruan di Kecamatan Pengasih ini, tak hanya memiliki siswa dengan nilai ujian nasional tertinggi se DIY. Angesti Fajar Utami, 17, siswi kelas XII AK 1, juga menjadi juara umum nilai rata-rata untuk UN dan ujian sekolah. Nilai rata-rata siswi yang akrab disapa Angesti ini menjadi tertinggi di sekolahnya yakni 92,91.

“Tidak menyangka jadi juara umum di sekolah. Karena nilai ujian nasionalnya masih tinggi Zulva,” kata Angesti.

Menurut Angesti, ujian nasional menggunakan sistem CBT dinilai lebih efektif. Salah satu penyebabnya adalah perhitungan waktu dalam menyelesaikan soal lebih efisien. Angesti mengatakan, jika dibandingkan dengan paper based tes, sistem CBT tidak terlalu membutuhkan waktu banyak dalam mengerjakan soal.

“Kalau pakai ujian biasa, harus dituntut lebih hati-hati dalam melingkari lembar jawaban, hitungan dilakukan menggunakan coret-coretan yang cukup menyita waktu,” jelas Angesti.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Pengasih menambahkan, tahun ini prestasi anak didiknya begitu membanggakan. Pasalnya, sebanyak 39 siswa mendapatkan nilai yang sempurna. Sebagian besar siswa itu mendapatkan nilai 100 pada mata pelajaran matematika yang selama ini dianggap pelajaran paling sulit.

“Beberapa siswa diantaranya, bahkan mendapatkan nilai 100 pada dua bidang studi. Atas prestasi para siswa, kami mendengar dari media massa sekolah kami menjadi juara kedua ujian nasional secara umum,” ujar Tri.

Pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer memang memberikan keuntungan yang positif bagi siswa dalam mengerjakan soal ujian. Selain dinilai lebih efektif, sistem tersebut memberikan kesempatan bagi siswa untuk dapat berusaha mengerjakan soal dengan sangat baik.

Meski demikian, menurut Tri perlu beberapa hal yang harus dievaluasi. Dia tak menampik, secara teknik pelaksanaan harus dapat ditingkatkan.

“Namun, efisiensi pelaksanaan harus dapat diperhatikan juga. Kami masih terbatas jumlah komputer, jadi pelaksanaan ujian lalu harus dilakukan sebanyak tiga shift. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kebocoran soal,” tandas Tri.