Musim Hujan November 2026, BNPB Ingatkan Ancaman Banjir dan Longsor
BNPB mengingatkan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, banjir bandang, longsor, dan banjir lahar saat musim hujan.
Ambulans TNI mengevakuasi jenazah Serda Handoko, korban penembakan di Nduga, Papua, Rabu (5/12/2018). /ANTARA FOTO-Evarianus Supar
Harianjogja.com, TIMIKA-Operasi penumpas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga yang dilakukan TNI-Polri di Kabupaten Nduga dipertanyakan oleh Wakil Ketua I DPRP Papua, Edoardus Kaize. Hal itu pun langsung mendapat tanggapan dari Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal.
Menurut Kamal, Polri dan TNI tidak melakukan operasi militer, melainkan pengejaran dan penegakkan hukum kepada para pelaku KKB yang melakukan pembunuhan para pekerja jembatan trans papua, di Kabupaten Nduga, Papua.
"Yang dilakukan Polri-TNI adalah murni penegakkan hukum terhadap pelaku kejahatan, dan sasarannya jelas, adalah para pelaku pembunuhan terhadap para pekerja jalan yakni kelompok kriminal bersenjata (KKB) dibawah pimpinan Egianus Kogoya," kata Kamal dalam keterangan persnya yang diterima Okezone, Senin (10/12/2018).
Menurut dia, Egianus Kogoya dan kelompoknya selain telah membunuh puluhan pekerja jembatan, juga telah menghambat pembangunan yang dicanangkan pemerintah di Papua.
"Polri-TNI menegaskan, hingga saat ini sasaran aparat adalah KKB pimpinan Egianus Kogoya, dan tidak ada namanya penumpasan atau siapa yang ditumpas. Karena ini bukan operasi militer melainkan murni penegakkan hukum terhadap pelaku kejahatan," ujarnya.
Selain itu, Kamal juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan pernyataan-pernyataan para elit politik terkait peristiwa di Nduga.
"Dan para elite politik, berharap jangan asal bicara dan tolong cek kebenarannya terlebih dahulu baru berbicara,jangan sampai nanti menjadi tersangka dalam kasus menyebarkan berita-berita bohong," imbaunya.
Sebelumnya, Wakil Ketua I DPRP Papua, Edoardus Kaize mempertanyakan terkait kepemilikan senjata beserta amunisi oleh KKB seperti yang disampaikan TNI-Polri. Pasalnya, menurut dia, wilayah terjadinya peristiwa merupakan hutan yang tidak mungkin dapat memproduksi senjata maupun amunisi, begitupula dengan senjata hasil rampasan yang tentu jumlahnya tidak banyak.
Oleh karena itu, kata dia, adanya penyampaian terkait operasi tumpas di Nduga menjadi sebuah pertanyaan bahwa apa yang ingin ditumpas TNI-Polri di Kabupaten Nduga.
"Mereka (KKB) bisa tembak sekian banyak orang. Kalau semua tembak, terus peluru berapa banyak yang mereka simpan di hutan? Siapa yang bawa peluru ke hutan sana? Jadi bagian ini jangan persalahkan, apalagi bilang panglima TNI mau bawa turun (pasukan) mau operasi tumpas, mau tumpas apa di sana?" tanya Edoardus baru-baru ini di Jayapura, Papua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
BNPB mengingatkan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, banjir bandang, longsor, dan banjir lahar saat musim hujan.
NTSB menyelidiki kecelakaan Learjet 60 di Florida yang menewaskan sembilan orang. Seluruh identitas korban telah diketahui.
Ferry Hongkiriwang mengungkap aliran uang Rp50 miliar dari Tan Kian dalam sidang Febrie Adriansyah. Febrie dan Nurman membantah tuduhan tersebut.
Kejagung membantah kabar penangkapan jenderal Polri. Sementara itu, Polri masih mengecek isu pemeriksaan dua petinggi terkait kerusuhan Jogja.
Aliansi Jogja Memanggil menagih janji Wali Kota Hasto Wardoyo menanggung biaya pengobatan korban kekerasan 28 Oktober 2026.
Sebanyak 22.866 peserta BPJS PBI APBN di Sleman dinonaktifkan. Pemkab memprioritaskan pasien kronis dan warga miskin untuk reaktivasi.