KPK Dalami Aliran Rp106,3 Miliar yang Diduga ke Nusron Wahid
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Prabowo menggelar konferensi pers di kediamannya di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018). /Suara.com-Yosea Arga
Harianjogja.com, JAKARTA- Slogan "Make Indonesia Great Again" yang dilontarkan capres Prabowo Subianto disindir kubu Jokowi.
Tim Kampanye Nasional Joko Widodo atau Jokowi- Maruf Amin mempertanyakan inti slogan Make Indonesia Great Again (Membuat Indonesia Kembali Berjaya), yang dicetuskan Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto saat berpidato.
Juru Bicara TKN Jokowi – Maruf, TB Ace Hasan Syadzily, menuturkan slogan itu belum paripurna sehingga banyak orang memplesetkannya menjadi Make Indonesia Orba Again (Membuat Indonesia Kembali Orde Baru).
“Sejak awal saya tak menyetujui konsep Make Indonesia Great Again. Dia kan merujuk pada konsep Presiden AS Donald Trump. Tapi, AS belum tentu sama dengan Indonesia dalam sejarahnya,” kata Ace Senin (15/10/2018).
Kalau Prabowo ingin membawa Indonesia kembali menjadi negara yang jaya, maka harus dijelaskan pula arah rujuannya sehingga tak menimbulkan spekulasi masyarakat.
"Kalau kita mau menjadi bangsa besar, tentu rujukannya ke mana? Ke zaman Orde Baru? Ya Orba pernah punya prestasi, tapi kan pemerintahannya dijatuhkan rakyat. Apa kita mau merujuk pada situasi itu?" ujarnya.
Sementara Juru Bicara Timses Prabowo – Sandiaga, Ferdinand Hutahaean menjelaskan, orang-orang yang memplesetkan jargon tersebut cuma melihat sisi negatif Orba.
Padahal, menurutnya, ada prestasi-prestasi Orde Baru yang bisa diaplikasikan dalam pemerintahan kekinian, terutama konsep ekonomi pembangunannya.
"Padahal orde baru punya prestasi luar biasa juga, meskipun punya kekurangan di bidang demokrasi. Nah demokrasinya itu akan diperbaiki, tetapi era pembangunannya kan harus ditiru," klaimnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Polisi membekuk Gembel, spesialis pencuri pompa sumur bor yang terungkap beraksi di 19 TKP di Gunungkidul dan Bantul.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Pemkab Sleman dan Klaten menyepakati pembagian PBJT Candi Prambanan untuk mengoptimalkan PAD dan pengembangan kawasan wisata.