Ekspor Pupuk ke Australia Tembus Rp7 Triliun, RI Perkuat Pasar Global
Mentan Amran melepas ekspor pupuk urea ke Australia senilai Rp7 triliun untuk memperkuat industri pupuk nasional dan pasar global.
Ilustrasi-Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto/Bisnis.com-Juli Etha
Harianjogja.com, JAKARTA—Polisi menyelidiki adanya senjata tajam yang diduga digunakan narapidana teroris membunuh lima anggota kepolisian di Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
“Ada senjata panjang, ada senjata pendek. Itu belum diketahui (asal senjata tajam),” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5/2018).
Setyo mengatakan penyidik akan mengkonfirmasi kepada tim negosiasi mengenai asal senjata tajam yang dimiliki narapidana teroris itu. Berdasarkan informasi, Setyo menduga narapidana teroris telah menyiapkan senjata tajam sebelum terjadi bentrokan dengan anggota kepolisian.
Hasil autopsi dokter forensik Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, menunjukkan kelima anggota kepolisian yang meninggal dunia menderita luka akibat senjata tajam pada sekujur tubuh.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi M Iqbal menyebutkan beberapa korban terdapat luka tembak, tetapi kebanyakan mengalami luka pada paha, lengan, jari dan leher akibat senjata tajam.
Sebelumnya, kelima anggota Polri itu gugur dalam tugas negara usai terlibat bentrokan antara petugas dengan narapidana teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (8/5/2018) malam.
Kelima anggota yang gugur itu yakni Aipda Denny Setiadi, Iptu Yudi Rospuji Siswanto, Brigadir Polisi Fandy Setyo Nugroho, Brigadir Satu Polisi Syukron Fadhli dan Brigadir Satu Polisi Wahyu Catur Pamungkas.
Minta Bertemu Aman Abdurrahman
Selain itu, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tidak menampik bahwa salah satu tuntutan narapidana teroris yang melakukan penyanderaan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat adalah bertemu dengan terdakwa kasus terorisme, Aman Abdurrahman.
"Kalau dibilang ada hubungan dengan Aman, memang ada tuntutan itu," kata Setyo Wasisto, saat jumpa pers, di Direktorat Polisi Satwa Korsabhara Baharkam Mabes Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018).
Menurut Setyo, para napi teroris itu ingin bertemu Aman Abdurrahman dan permintaan itu pun sudah dipenuhi. "Mereka sudah bertemu Aman kemarin," ujar Setyo.
Meski demikian, Setyo tidak mau menjelaskan lebih detail mengenai tuntutan para napi teroris, mengingat saat ini upaya negosiasi masih dilakukan. Polri juga belum bisa memastikan apa tuntutan utama yang diminta para napi teroris itu.
"Tuntutan tidak jelas, karena memang asal-usulnya masalah sepele, yakni pemeriksaan makanan yang dilakukan petugas," kata dia lagi. Namun, ada yang tidak suka, sehingga memprovokasi napi yang lain. Akibatnya terjadi kerusuhan meluas di dalam rutan, ujar Setyo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Mentan Amran melepas ekspor pupuk urea ke Australia senilai Rp7 triliun untuk memperkuat industri pupuk nasional dan pasar global.
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
KKP mempercepat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat hilirisasi perikanan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Komdigi meminta seluruh platform digital menyelesaikan self assessment PP Tunas sebelum 6 Juni 2026 untuk perlindungan anak di ruang digital.
Pemkot Yogyakarta kembangkan Program Bule Mengajar di kampung wisata untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat dan UMKM lokal.
Keluarga korban romusha asal Belanda mengunjungi Monumen Kereta Api Pekanbaru untuk mengenang tragedi kerja paksa era Perang Dunia II.