Kerugian Kesehatan akibat Karhutla Mencapai Rp224 Triliun

Mutiara Nabila
Mutiara Nabila Senin, 02 November 2026 19:07 WIB
Kerugian Kesehatan akibat Karhutla Mencapai Rp224 Triliun

Siswa berjalan di halaman sekolah sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (21/8/2026). Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memberlakukan kebijakan untuk siswa SD dan SMP dengan menunda waktu masuk jam pelajaran menjadi pukul 08.00 WIB, meniadakan sementara kegiatan di luar ruangan, wajib memakai masker, dan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatka

Harianjogja.com, JAKARTA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 diperkirakan menimbulkan beban kesehatan hingga Rp224,65 triliun. Kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan krisis asap akibat kebakaran tersebut berpotensi membuat 41,89 juta penduduk Indonesia mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), baik yang telah terdiagnosis maupun yang mengalami gejala.

Besarnya potensi kerugian tersebut dihitung melalui dua skenario. Skenario pertama menggunakan data masyarakat yang telah mendapatkan diagnosis ISPA dari tenaga kesehatan.

Dalam skenario ini, biaya medis langsung dan kerugian ekonomi akibat hilangnya pendapatan diperkirakan mencapai Rp19,20 triliun secara nasional. Namun, Celios menilai perhitungan tersebut belum menggambarkan keseluruhan dampak karena masih ada masyarakat yang mengalami gejala tetapi belum atau tidak memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Skenario kedua memasukkan kelompok masyarakat yang mengalami gejala ISPA tanpa diagnosis medis. Jika kelompok ini turut diperhitungkan, estimasi biaya kesehatan meningkat menjadi Rp224,65 triliun.

Nilai tersebut terdiri dari biaya pengobatan langsung sebesar Rp167,62 triliun. Selain itu, terdapat biaya ekonomi tidak langsung sebesar Rp57,03 triliun akibat hilangnya hari produktif masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.

Besarnya estimasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan terganggunya kegiatan ekonomi. Krisis asap juga berpotensi menambah beban pengobatan masyarakat serta mengurangi produktivitas penduduk.

Celios Perkirakan 41,89 Juta Orang Terdampak ISPA
Kajian Celios turut mengutip laporan riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang memperkirakan asap karhutla menyebabkan ribuan kematian pada September 2026.

"Asap karhutla diperkirakan menyebabkan 3.560 kematian pada bulan September 2026," sebut laporan riset CREA yang disitir dalam dokumen kajian tersebut, dikutip Senin (2/11/2026).

Sementara itu, kajian tersebut mengacu pada temuan Kementerian Kesehatan yang mencatat lonjakan prevalensi ISPA hingga 78% akibat krisis karhutla tahun ini. Dengan menggunakan asumsi kenaikan tersebut, Celios memproyeksikan jumlah masyarakat yang mengalami diagnosis maupun gejala ISPA berpotensi mencapai 41,89 juta jiwa di seluruh Indonesia.

Ekonom Celios, Nailul Huda, menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah untuk menghadapi dampak karhutla terhadap kesehatan dan perekonomian. Dia mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional agar intervensi anggaran dan penindakan dapat dilakukan lebih luas.

"Mendesak Pemerintah segera melakukan penetapan status Bencana Nasional Karhutla 2026. Pemerintah Pusat tidak bisa menyerahkan tanggung jawab pemulihan dan kerugian korban hanya pada Pemerintah Daerah yang mengalami tekanan fiskal," tegas Huda.

Menurut Huda, penanganan dampak karhutla tidak semestinya hanya dibebankan kepada pemerintah daerah. Tekanan fiskal yang dihadapi daerah terdampak dinilai perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan dukungan pemerintah pusat.

Sumatera Utara Menanggung Kerugian Terbesar
Besarnya kerugian kesehatan akibat karhutla tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah titik api atau luas kebakaran di suatu wilayah. Celios mencatat beban kesehatan yang besar justru diperkirakan terjadi di sejumlah provinsi dengan populasi penduduk relatif padat.

Meskipun titik api karhutla terbesar terkonsentrasi di Papua Selatan dan Kalimantan Barat, Sumatera Utara menjadi wilayah dengan estimasi jumlah penderita ISPA terbanyak. Jumlah penduduk yang terdampak diperkirakan mencapai 4,24 juta jiwa dengan potensi kerugian kesehatan Rp22,75 triliun.

Sulawesi Selatan menempati posisi berikutnya dengan estimasi 4,05 juta orang terdampak. Potensi beban biaya kesehatan di provinsi tersebut mencapai Rp21,74 triliun.

Nusa Tenggara Barat (NTB) juga masuk dalam tiga wilayah dengan estimasi beban kesehatan terbesar. Celios memperkirakan 3,44 juta penduduk di provinsi tersebut terdampak, dengan potensi kerugian mencapai Rp18,44 triliun.

Jawa Timur turut menjadi perhatian meskipun secara historis memiliki luasan karhutla lebih kecil. Kebakaran di sekitar kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diproyeksikan menimbulkan kerugian kesehatan Rp14,37 triliun. Besarnya estimasi tersebut dikaitkan dengan kepadatan permukiman di kawasan terdampak.

Kelompok Rentan Diminta Segera Dievakuasi
Selain biaya pengobatan dan hilangnya produktivitas, Celios mengingatkan potensi dampak kesehatan pernapasan kronis dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dinilai dapat menambah tekanan terhadap anggaran kesehatan, termasuk pembiayaan melalui BPJS Kesehatan.

Huda meminta pemerintah segera menyiapkan tempat pengungsian yang aman bagi masyarakat terdampak. Evakuasi medis juga perlu dilakukan, terutama untuk kelompok rentan yang berisiko mengalami dampak lebih berat akibat paparan asap.

"Segera bangun tempat pengungsian yang aman termasuk melakukan evakuasi medis bagi kelompok rentan. Keselamatan rakyat adalah prioritas yang utama," kata Huda.

Dorongan tersebut menjadi bagian dari usulan Celios agar penanganan karhutla dilakukan dengan mempertimbangkan dampak kesehatan masyarakat. Dengan potensi puluhan juta orang terdampak dan estimasi biaya yang mencapai ratusan triliun rupiah, kajian tersebut menempatkan persoalan kesehatan sebagai salah satu beban utama dalam krisis karhutla 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online