Iran Tegaskan Kendali Penuh atas Selat Hormuz dan Sekitarnya

Newswire
Newswire Selasa, 27 Oktober 2026 20:07 WIB
Iran Tegaskan Kendali Penuh atas Selat Hormuz dan Sekitarnya

Sejumlah kapal niaga milik Iran dan negara lain masih berlabuh di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran, pada 10 September 2026. Menyusul pengumuman Teheran bahwa selat tersebut akan tetap ditutup di tengah ketegangan yang terus berlangsung antara AS dan Iran, ketidakpastian mengenai lalu lintas kapal masih berlanjut di salah satu titik transit energi dan perdagangan paling krusial di dunia./Antara-Fatemeh Bahrami- Anadolu Agency

Harianjogja.com, TEHERAN—Iran menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman di tengah konflik yang belum terselesaikan dengan Amerika Serikat (AS). Teheran juga memperingatkan kapal-kapal yang melintasi jalur perairan strategis tersebut di luar ketentuan Iran berisiko mengalami kerusakan serius.

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (26/10), sebagaimana dikutip lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB.

"Seluruh wilayah Teluk Persia dan pulau-pulau di dalamnya, Teluk Oman beserta garis pantainya, serta bagian timur dan barat Selat Hormuz, berada di bawah kendali angkatan bersenjata Republik Islam Iran," kata Abdollahi.

Ia menegaskan, selama Selat Hormuz masih ditutup, kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur tersebut di luar kerangka perintah Iran.

"Selama Selat Hormuz tetap ditutup, maka tidak ada kapal yang akan diizinkan melintasi jalur perairan strategis ini di luar kerangka perintah Iran," lanjutnya.

Abdollahi juga memperingatkan kapal yang mencoba berlayar di luar jalur yang ditetapkan Iran akan menghadapi risiko dan mengalami kerusakan serius.

Konflik Iran dan AS Belum Terselesaikan

Ketegangan di kawasan tersebut berlangsung setelah Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas serangan tersebut.

Pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelah kesepakatan itu.

Hingga kini, konflik antara Iran dan AS masih belum terselesaikan. Eskalasi tersebut menyebabkan Selat Hormuz secara de facto diblokade.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara di kawasan Teluk Persia menuju pasar global. Gangguan pelayaran di jalur ini turut memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak kawasan serta mendorong kenaikan harga minyak.

Pemimpin Tertinggi Iran Disebut dalam Kondisi Sehat

Di tengah konflik tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam kondisi sehat pada Selasa.

Sebelumnya, pada 21 Oktober, kantor pemimpin tertinggi Iran menyatakan Khamenei akan bertemu dengan ketua parlemen untuk membahas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

"Pemimpin tertinggi dalam kondisi sehat," kata Ghalibaf setelah pertemuan tersebut berlangsung.

Pada Mei, Mazaher Hosseini, kepala protokol kantor Khamenei, mengatakan kondisi pemimpin Iran itu berangsur pulih setelah mengalami cedera punggung dan lutut, serta luka robek di belakang telinga. Cedera tersebut disebut terjadi akibat serangan Amerika Serikat dan Israel pada Februari yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, membantah bahwa luka-luka tersebut memengaruhi penampilan Khamenei.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online