Perundingan Iran-AS Belum Capai Kesepakatan, Qatar Khawatir Perang Meluas

Newswire
Newswire Rabu, 21 Oktober 2026 16:17 WIB
Perundingan Iran-AS Belum Capai Kesepakatan, Qatar Khawatir Perang Meluas

Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz—salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global—masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026. Antara/Shady Alassar - Andolu Agency

Harianjogja.com, DOHA—Qatar memperingatkan risiko pecahnya perang regional yang lebih luas di tengah berlanjutnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Kedua negara masih menjalin komunikasi untuk mencapai kesepakatan, tetapi situasi di lapangan dinilai semakin sulit dan rawan memicu eskalasi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyampaikan hal tersebut dalam Forum Keamanan Global di Doha, Qatar. Mengutip Anadolu, Rabu (21/10/2026), Ansari mengatakan komunikasi antara Teheran dan Washington masih berlangsung, dengan dukungan sejumlah mitra regional untuk membantu proses negosiasi.

Ansari berharap perundingan itu dapat menghasilkan kesepakatan. Namun, dia mengingatkan bahwa eskalasi yang tidak terkendali berpotensi memicu perang regional yang lebih luas, bahkan melampaui kawasan Timur Tengah.

Menurut Ansari, gencatan senjata yang sebelumnya disepakati seharusnya menjadi jalan untuk membuka perundingan, bukan menjadi tujuan akhir. Akan tetapi, kesepakatan tersebut tidak mampu bertahan sehingga pertempuran kembali berlanjut.

“Gencatan senjata pada dasarnya merupakan pintu yang membuka jalan menuju suatu tujuan, bukan tujuan itu sendiri,” kata Ansari.

Qatar Minta Konflik Regional Diredakan Bersamaan
Ansari turut menyoroti konflik di Yaman yang menurutnya berkaitan dengan ketegangan yang melibatkan Iran, tetapi juga memiliki dinamika tersendiri. Karena itu, penyelesaian konflik di kawasan tidak bisa hanya berfokus pada satu persoalan.

Dia menilai seluruh konflik regional perlu diredakan secara bersamaan agar ketegangan tidak semakin meluas. Ansari juga menyampaikan kekhawatiran atas sejumlah pernyataan politik Israel dan memperingatkan agar ketidakstabilan kawasan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik domestik.

Sementara itu, terkait Gaza dan persoalan Palestina, Ansari menilai prospek penyelesaian politik masih terhambat oleh belum adanya proses perdamaian yang layak.

Dia mempertanyakan apakah partai politik dan para kandidat di Israel menawarkan jalan menuju perdamaian dengan rakyat Palestina.

Ansari menegaskan keberhasilan mediasi tidak harus bergantung pada adanya kepercayaan di antara pihak-pihak yang berkonflik. Menurutnya, keyakinan terhadap proses perundingan menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai kesepakatan.

Iran Sebut Tuntutan AS Hambat Kesepakatan
Di tengah upaya diplomasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuntutan Amerika Serikat yang dinilai berlebihan menjadi salah satu penghambat tercapainya kesepakatan damai antara Teheran dan Washington.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan hal itu pada Selasa ketika ditanya mengenai persoalan yang mengganggu proses perundingan kedua negara.

“Tuntutan yang berlebihan,” kata Baqaei.

Dia juga mengungkapkan bahwa pesan yang diterima Teheran dari Washington dinilai belum memadai dan belum lengkap.

Meski demikian, Iran menyatakan akan tetap mempertahankan tujuh syarat yang sebelumnya telah disampaikan dalam upaya meredakan ketegangan. Persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade laut dan penghentian permusuhan di seluruh garis depan.

Langkah itu disebut berkaitan dengan upaya meredakan ketegangan di Selat Hormuz sekaligus mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.

Konflik Iran-AS Kembali Memanas
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut kemudian memicu aksi balasan dari Teheran.

Pada pertengahan Juni lalu, Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman terkait penghentian permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali saling menyerang.

Hingga kini, perseteruan antara Washington dan Teheran belum menemukan titik penyelesaian. Perundingan masih berlangsung, sementara perbedaan tuntutan kedua negara dan ketegangan di sejumlah wilayah menjadi tantangan bagi upaya mencapai kesepakatan.

Peringatan Qatar tersebut menyoroti risiko yang dapat muncul apabila eskalasi terus berlanjut tanpa penyelesaian diplomatik. Doha berharap komunikasi dan mediasi tetap berjalan untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online