Tuai Polemik, Dua Putra Menhaj Mundur dari Jabatan Tenaga Ahli Kemenhaj

Newswire
Newswire Selasa, 27 Oktober 2026 10:57 WIB
Tuai Polemik, Dua Putra Menhaj Mundur dari Jabatan Tenaga Ahli Kemenhaj

Foto ilustrasi kursi pejabat ASN, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Dua putra Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, mengundurkan diri dari jabatan tenaga ahli di Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Keputusan itu diambil setelah penunjukan keduanya memicu pro dan kontra di ruang publik.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pihaknya bersama Menteri Haji dan Umrah telah menerima pengunduran diri tersebut.

“Pak Menteri dan saya sudah menerima pengunduran diri dua orang tenaga ahli. Jadi, secara resmi dua orang tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri,” kata Dahnil saat dikonfirmasi dari Jakarta, Selasa.

Menurut Dahnil, keterlibatan kedua putra menteri itu bermula ketika Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) baru dibentuk dan membutuhkan bantuan untuk menjalankan tugas kelembagaan. Saat itu, badan tersebut hanya dipimpin oleh kepala dan wakil kepala sehingga memerlukan dukungan dari sejumlah pihak.

Ia menjelaskan, kedua putra Menhaj ikut membantu pekerjaan sejak awal pembentukan BP Haji. Dahnil juga menyebut keduanya tidak menerima bayaran pada masa awal membantu lembaga tersebut.

“Ketika Badan Penyelenggara Haji memang tidak ada orang yang mau membantu kami sejak awal secara sukarela. Akhirnya adalah anaknya Pak Menteri ikut membantu sejak awal,” ujar Dahnil.

Namun, setelah penunjukan keduanya menjadi polemik di masyarakat, Barbarossa dan Gibran memutuskan mundur dari jabatan tenaga ahli.

Pengganti Tenaga Ahli Menjadi Kewenangan Menhaj

Dahnil mengatakan posisi tenaga ahli yang ditinggalkan keduanya akan diisi oleh orang lain. Penentuan pengganti tersebut menjadi kewenangan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf.

Ia menambahkan, keputusan menerima pengunduran diri itu merupakan bagian dari komitmen pimpinan kementerian untuk menjaga integritas dan memastikan pelaksanaan tugas pemerintahan berjalan sesuai prinsip etika.

“Untuk memastikan Kementerian Haji dan Umrah harus bebas dari praktik-praktik yang tidak beretika, praktik-praktik yang manipulatif, koruptif, perilaku mafia, dan sebagainya,” ujar Dahnil Anzar Simanjuntak.

H. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, atau yang akrab disapa Gus Irfan, adalah Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia. Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 24 Juni 1962, ia merupakan sosok ulama dan politikus berlatar belakang kuat Nahdlatul Ulama (NU), di mana ia adalah cucu dari pendiri NU, KH. Hasyim Asy'ari, serta putra dari KH. Yusuf Hasyim.

Sebelum mengemban jabatan menteri, Gus Irfan memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam sebagai pengasuh pesantren serta pengabdian di dunia organisasi dan ekonomi kerakyatan, termasuk pernah menjabat sebagai anggota DPR RI sebelum akhirnya dipercaya untuk memimpin dan menata sistem penyelenggaraan ibadah haji serta umrah secara nasional di bawah Kabinet Merah Putih.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online