Karhutla Terus Meluas, Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Wilayah Indonesia

Newswire
Newswire Minggu, 11 Oktober 2026 22:57 WIB
Karhutla Terus Meluas, Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Wilayah Indonesia

Petugas melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar. Fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 telah menaikkan risiko karhutla di Indonesia./Dok. KLH\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih meluas di sejumlah wilayah Indonesia. Sebanyak 12.176 titik panas terdeteksi dalam 24 jam terakhir, kebakaran di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, menghanguskan ratusan rumah, sementara asap karhutla membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi masuk kategori berbahaya.

Data sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat penambahan 404 titik panas dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan ancaman kebakaran masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi.

Kalimantan Tengah Catat Titik Panas Terbanyak

Berdasarkan pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (11/10/2026) pukul 11.15 WIB, dari total 12.176 titik panas, sebanyak 674 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 10.980 titik berkategori sedang, dan 522 titik berkategori rendah.

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 3.898 titik. Sumatra Selatan menempati posisi kedua dengan 1.548 titik, disusul Papua Selatan yang mencatat 1.207 titik panas.

Tingkat kepercayaan deteksi titik panas dibagi menjadi tiga skala. Kategori rendah berada pada rentang 0–29, sedang 30–79, dan tinggi 80–100. Semakin tinggi nilainya, semakin besar kemungkinan wilayah yang terdeteksi mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Ratusan Rumah di Bangka Selatan Terbakar

Dampak karhutla dan kebakaran lahan terlihat di Dusun Serdang, Desa Jelutung 2, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Api mulai menyala pada Sabtu (10/10) sekitar pukul 15.10 WIB, kemudian merambat dari lahan di dekat permukiman hingga membakar ratusan rumah warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaporkan sekitar 500 rumah terbakar berdasarkan pendataan sementara pada Minggu (11/10) pukul 07.00 WIB. Jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai 2.000 jiwa, sedangkan luas lahan yang terbakar masih dalam pendataan.

Angka tersebut kemudian diperbarui oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani. Pada Minggu pukul 09.40 WIB, dia menyebut jumlah rumah terdampak mencapai 600 unit, dengan 600 kepala keluarga atau 2.400 jiwa, meskipun data tersebut belum final.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Agus Afandi menyampaikan bahwa api telah berhasil dipadamkan. Namun, petugas masih melakukan proses pendinginan di lokasi kebakaran.

"Saat ini api sudah berhasil dipadamkan, namun tetap dilakukan proses pendinginan," kata Agus di Dusun Serdang, Minggu.

Agus mengatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Proses pendinginan tetap dilakukan karena sebagian besar material rumah warga yang terbakar terbuat dari papan, sedangkan penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui secara pasti.

Asap Karhutla Membuat Udara Jambi Berbahaya

Selain merusak lahan dan permukiman, karhutla juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat akibat pencemaran udara. Data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara di Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, berada pada kategori berbahaya pada Sabtu (10/10).

Kondisi itu terjadi seiring semakin pekatnya asap karhutla di sejumlah wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Peningkatan konsentrasi asap berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Asap karhutla mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko memicu iritasi mata, batuk, dan sesak napas, sekaligus memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit tertentu.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika asap terlihat semakin pekat. Penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, seperti respirator N95, dapat membantu mengurangi paparan asap saat berada di luar ruangan.

Warga juga disarankan menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar memburuk. Jika tersedia, penyaring udara dapat digunakan di dalam ruangan, sementara masyarakat yang mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan serius perlu segera mencari pertolongan medis.

Pemantauan kualitas udara, pemadaman kebakaran, dan pencegahan perluasan api menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak pencemaran terhadap kesehatan dan lingkungan. Masyarakat juga diharapkan terus memantau pembaruan data ISPU dari instansi berwenang agar dapat menyesuaikan kegiatan sehari-hari dengan kondisi udara setempat.

Indonesia Kerahkan Lebih dari 60.000 Personel

Pemerintah Indonesia menyatakan telah melakukan sejumlah upaya untuk menangani karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan untuk menjelaskan langkah-langkah penanganan yang dilakukan Indonesia.

Komunikasi tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut pembicaraan melalui telepon antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada pekan ini.

“Ya kami sudah berkomunikasi dengan [Malaysia], dari saya sudah berbicara juga dengan Menlu Malaysia, dan juga kami sudah jelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia seperti kami sudah menerjunkan lebih dari 60.000 personel, kita telah menerjunkan juga 48 helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing dan pengalihan cuaca,” kata Arrmanatha saat ditemui di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10).

Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, menyebut karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia. Selain mengerahkan puluhan ribu personel serta 48 helikopter dan pesawat, pemerintah juga menempuh langkah hukum terhadap perorangan dan korporasi serta melakukan pengawasan terhadap konsesi yang terdampak kebakaran.

Ratusan Laporan Karhutla Diproses

Dalam penegakan hukum terhadap kebakaran hutan dan lahan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah menangani dan masih memproses 247 laporan polisi terkait karhutla yang melibatkan perorangan. Sebanyak 198 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara 97 laporan polisi terkait korporasi juga sedang diproses.

Di sisi lain, Kemenhut telah menjatuhkan sanksi administratif kepada 26 subjek hukum. Jumlah itu terdiri atas 25 pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan satu pemegang Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

Sanksi administratif tersebut mencakup pencabutan izin usaha terhadap lima subjek hukum, pembekuan izin usaha terhadap 13 subjek hukum, serta teguran tertulis atau perintah pemulihan terhadap delapan subjek hukum.

Selain sanksi administratif, pernyataan tersebut juga mencantumkan sanksi pidana terhadap 46 subjek hukum. Penanganan melalui pengerahan personel, pemadaman dari udara, pengalihan cuaca, dan penegakan hukum menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadapi karhutla yang masih mengancam sejumlah wilayah Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online