Harga Minyak Naik, Indonesia Amankan Crude dari Rusia

Newswire
Newswire Senin, 14 September 2026 23:27 WIB
Harga Minyak Naik, Indonesia Amankan Crude dari Rusia

Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak dunia yang menembus lebih dari US$100 per barel menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk menjaga stabilitas energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata harga minyak nasional sepanjang Januari–September 2026 sudah berada di kisaran US$85–90 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.

“Rata-rata nasional dari Januari sampai dengan September itu kurang lebih sekitar 85–90 dolar AS per barel,” ucap Bahlil dalam acara Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) di Jakarta, Senin.

Bahlil mengatakan kondisi harga minyak tersebut menjadi salah satu pertimbangan Indonesia dalam mengamankan pasokan minyak mentah impor. Salah satunya dengan mendapatkan crude dari sejumlah negara, termasuk Rusia.

Pada saat yang sama, pemerintah berkomitmen mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar agar tidak berubah hingga akhir 2026.

“Ini urusan energi ini urusan hajat hidup orang banyak. Kita harus mampu membuat rumusan kebijakan yang sekalipun kondisi global itu terjadi yang luar biasa, kepastian harga harus kita jamin. Ujung kesimpulannya adalah kita sekarang mendapat crude (minyak mentah) dari beberapa negara, termasuk Rusia,” kata Bahlil.

Harga Minyak Dunia Tembus US$106

Bahlil mengungkapkan harga minyak dunia pada Senin telah menyentuh US$106 per barel. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga minyak global masih cukup tinggi dibandingkan asumsi yang digunakan pemerintah dalam APBN 2026.

Pemerintah pun berupaya memastikan ketersediaan minyak mentah agar kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi. Langkah tersebut juga berkaitan dengan komitmen menjaga kepastian harga BBM bersubsidi bagi masyarakat.

Bahlil menegaskan kebijakan pengadaan minyak tidak dibatasi oleh asal negara selama kebutuhan energi Indonesia dapat dipenuhi. Ia mengaitkan kebijakan tersebut dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia.

“Yang penting barang ada dan murah. Itu paling penting. Urusan ini mau dari laut sana, laut sini, langit sana, epenkah (penting kah)? Enggak penting,” ujar Bahlil.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh membiarkan keputusan terkait kepentingan energinya diatur atau diintervensi negara lain.

Indonesia Pastikan Pasokan Energi

Bahlil menegaskan Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Karena itu, menurutnya, tidak boleh ada negara yang mengintervensi maupun mengatur keputusan Indonesia.

Ia mengatakan kepastian pasokan dan harga menjadi hal utama dalam menghadapi dinamika energi global. Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang mampu menjaga kepentingan masyarakat meskipun terjadi gejolak luar biasa di pasar dunia.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent pada awal perdagangan juga mengalami kenaikan. Dikutip dari Kantor Berita Rusia, Sputnik, harga Brent naik lebih dari 3 persen menjadi US$107,77 per barel setelah adanya penundaan pertemuan terkait pelayaran di Selat Hormuz.

Hingga pukul 22:03 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November tercatat naik 3,16 persen dari penutupan sebelumnya. Harga kontrak tersebut berada di posisi US$107,77 per barel.

Kondisi harga minyak global tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Di tengah kenaikan harga minyak dunia, pemerintah tetap menyatakan komitmen untuk menjaga harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah sampai akhir 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online