Laut China Selatan Memanas, Filipina dan China Saling Serang
Filipina dan China kembali saling kritik soal sengketa Laut China Selatan. Menhan Gilberto Teodoro membalas pesan China terkait arbitrase.
Ilustrasi - Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (ANTARA/Xinhua/aa.)\r\n
Harianjogja.com, WASHINGTON—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut perundingan dengan Iran masih mungkin terjadi meski Washington tidak sedang mengupayakan pembicaraan dengan Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Rabu (9/9) di tengah konflik AS-Iran yang hingga kini belum terselesaikan.
Trump mengatakan pemerintah AS tidak secara aktif mendorong perundingan dengan Iran. Namun, peluang pembicaraan tetap terbuka jika kedua pihak nantinya memilih jalur tersebut.
"Kami tidak mendorong (perundingan dengan Iran). Ya, perundingan mungkin saja terjadi, tetapi itu bukan sesuatu yang sedang kami upayakan," kata Trump kepada wartawan.
Konflik antara AS dan Iran sendiri bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di pihak lawan.
Konflik AS-Iran Kembali Pecah
Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena permusuhan kembali terjadi.
Hingga kini, konflik AS-Iran belum terselesaikan. Permusuhan bahkan kembali pecah secara sporadis di tengah hubungan kedua negara yang masih memanas.
Di tengah situasi tersebut, Washington memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Langkah itu ditempuh sebagai upaya mengakhiri konflik dengan memberikan tekanan finansial tambahan kepada Teheran.
Iran Klaim Tangkap Kapal Selam AS
Ketegangan AS-Iran juga berlangsung di kawasan Selat Hormuz. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan telah menangkap kapal selam milik Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya pada Selasa (8/9), IRGC menyebut Angkatan Laut Iran telah menangkap "salah satu kapal selam nirawak modern, tercanggih, dan cerdas milik pasukan AS di gerbang masuk menuju Selat Hormuz".
IRGC mengatakan operasi penangkapan dilakukan melalui operasi teknis dan intelijen pada Selasa dini hari. Iran juga menyatakan kapal tersebut menggunakan teknologi terbaru yang dioperasikan oleh Angkatan Laut AS pada 2025.
Menurut pernyataan tersebut, kapal selam itu kini berada dalam penguasaan pasukan Iran. Mereka juga menyatakan akan segera menyiarkan gambar peralatan militer tersebut.
Melalui laman IRGC, Iran menyebut kapal selam yang ditangkap itu berjenis Dive-LD. Kapal tersebut diproduksi Anduril Industries, perusahaan asal AS yang membuat teknologi pertahanan dan sistem otomasi canggih untuk melindungi AS dan sekutunya.
IRGC menyebut Dive-LD memiliki panjang sekitar 5,8 meter dan berat hampir tiga ton. Kapal selam tersebut dirancang untuk menjalankan misi mandiri dalam durasi panjang di kedalaman perairan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Filipina dan China kembali saling kritik soal sengketa Laut China Selatan. Menhan Gilberto Teodoro membalas pesan China terkait arbitrase.
Wapres Gibran mendorong inovasi mahasiswa ITB terus dikembangkan agar berdampak lebih luas dan terhubung dengan kebutuhan industri.
Pakar Vulkanologi UGM Prof. Agung Harijoko menjelaskan enam gunung api aktif bersamaan merupakan fenomena alami dalam proses geologi.
Malone Lam, pemuda Singapura 22 tahun, mengaku bersalah dalam kasus pencurian kripto US$245 juta dan menjalani gaya hidup mewah.
BMKG memantau sebaran abu vulkanik dari lima gunung api pada 10 September 2026. Simak wilayah yang terdampak dan imbauannya.
Dinkes Bantul menduga jalur makanan matang dan mentah di SPPG Patalan 2 memicu kontaminasi bakteri dalam kasus keracunan MBG.