Menteri PU Berharap Kelok 23 Bantul-Gunungkidul Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Kelok 23 Pansela DIY rampung 100 persen. Jalan penghubung Bantul-Gunungkidul ini ditargetkan beroperasi September-Oktober 2026.
Salah satu wilayah Nepal yang diterjang banjir bandang. ANTARA/Anadolu/py.\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA— Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang perbatasan Nepal-China menjadi peringatan serius terkait pembangunan bendungan besar di kawasan pegunungan Himalaya yang rawan bencana.
Profesor geografi kritis King’s College London, Daanish Mustafa, mengatakan kondisi gletser yang dinamis serta aktivitas seismik di kawasan Himalaya dan Karakoram membuat wilayah tersebut memiliki risiko bencana yang tinggi.
“Bencana seperti itu pasti akan selalu terjadi di lingkungan gletser yang dinamis dan aktif secara seismik di Himalaya dan Karakoram yang tinggi,” kata Mustafa kepada Anadolu.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika operasi pencarian terhadap hampir 4.500 orang yang masih hilang akibat bencana tersebut terus dilakukan.
Korban Tewas Capai 1.130 Orang
Bencana yang terjadi pada 26 Agustus 2026 itu telah menyebabkan sedikitnya 1.130 orang meninggal dunia hingga Rabu (2/9/2026). Jumlah tersebut tercatat sepekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan Nepal dan China.
Bencana bermula setelah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, retak pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Peristiwa tersebut memicu longsoran es dan batu yang kemudian berkembang menjadi aliran material dalam jumlah besar.
Material tersebut bergerak menerjang lembah di sepanjang perbatasan kedua negara. Arus air dan lumpur menghancurkan sejumlah wilayah di Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu.
Di wilayah China, material longsor mengubur pos perbatasan Gyirong yang berada di Tibet barat daya.
“Ini adalah insiden yang sangat disayangkan dan, sayangnya, tidak dapat dicegah,” ujar Mustafa.
Di Nepal, sebanyak 3.916 orang masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 639 orang merupakan personel yang ditempatkan di berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air.
Pakar Soroti Pembangunan Bendungan
Mustafa menilai keberadaan bendungan di kawasan pegunungan tinggi justru berpotensi memperbesar dampak kerusakan ketika bencana serupa terjadi.
Ia meminta negara-negara yang sedang mengembangkan bendungan besar di kawasan Himalaya menjadikan bencana tersebut sebagai peringatan, terutama India, China, dan Pakistan.
“Bendungan di pegunungan tinggi justru memperbesar dan memperparah kerusakan akibat kejadian seperti ini. Ini harus menjadi peringatan bagi semua negara, terutama India, China, dan Pakistan yang sedang membangun bendungan besar di kawasan tersebut,” kata Mustafa.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah proses pencarian ribuan orang yang masih belum ditemukan. Menurut Mustafa, karakter kawasan pegunungan tinggi dan kondisi gletser yang aktif perlu menjadi pertimbangan dalam pembangunan infrastruktur skala besar.
China Sebut Pemanasan Iklim Jadi Faktor
Kementerian Luar Negeri China pada Rabu menyatakan bencana tersebut “disebabkan ketidakstabilan gletser akibat dampak jangka panjang dari pemanasan iklim.”
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan longsoran es dan batu dari sebuah gletser di Nepal bergerak cepat menuruni lereng. Material tersebut kemudian mengikis sisi gunung dan memicu bencana.
“Longsoran es dan batu terjadi di sebuah gletser di Nepal, meluncur dengan cepat menuruni lereng dan mengikis sisi gunung, yang kemudian memicu bencana,” kata Guo kepada wartawan di Beijing.
Mustafa mengatakan pernyataan resmi dari China dan Nepal untuk sementara dapat menjadi acuan. Namun, ia menilai kesimpulan akhir tetap perlu menunggu penilaian ilmiah independen.
“Pada saat ini, kita harus mengikuti klaim resmi China dan Nepal sampai penilaian ilmiah independen tersedia, yang mungkin masih membutuhkan waktu,” katanya.
Edukasi dan Pemantauan Diperlukan
Menurut Mustafa, risiko bencana di kawasan pegunungan tidak dapat sepenuhnya dihilangkan. Namun, dampaknya dapat ditekan melalui sejumlah langkah mitigasi.
Ia menyebut edukasi kepada masyarakat, latihan evakuasi, pembangunan infrastruktur komunikasi yang efektif, serta pemantauan sebagai beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi bencana serupa.
Selain itu, Mustafa kembali mengingatkan potensi bendungan dalam memperbesar dampak ketika terjadi bencana di kawasan pegunungan tinggi.
Ia meminta masyarakat di Asia Selatan memperhatikan risiko tersebut, terutama seiring pembangunan berbagai bendungan besar di kawasan yang memiliki aktivitas geologi dan kondisi gletser yang dinamis.
“Bendungan-bendungan itu dapat menyebabkan bencana besar dalam kejadian seperti ini. Dengan bendungan yang sudah beroperasi, kejadian semacam itu dapat menyebabkan jutaan kematian, bukan hanya beberapa ratus seperti yang terjadi di Nepal,” kata Mustafa.
Bencana di perbatasan Nepal-China tersebut hingga kini masih dalam penanganan. Operasi pencarian terhadap ribuan orang yang dilaporkan hilang juga masih berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kelok 23 Pansela DIY rampung 100 persen. Jalan penghubung Bantul-Gunungkidul ini ditargetkan beroperasi September-Oktober 2026.
512 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam keracunan MBG. DPR meminta pengawasan dan koordinasi Kemenag, BGN, serta pemda diperkuat.
Harga cabai merah besar di tingkat petani Bantul anjlok menjadi Rp8.000 per kilogram akibat pasokan melimpah saat panen bersamaan.
Bobot TKA dalam SNBP 2027/2028 berpeluang meningkat setelah evaluasi pelaksanaan TKA 2026 dan pembahasan MRPTNI.
Seto Nurdiantoro dipercaya menjadi Direktur PSS Muda Akademi untuk memperkuat pembinaan dan mencetak talenta baru bagi PSS Sleman.
Bencana Nepal-China menewaskan 1.130 orang. Pakar mengingatkan risiko pembangunan bendungan besar di kawasan pegunungan Himalaya.