Gempa M7,4 Guncang Kolombia, 6 Bandara Rusak dan Ditutup

Newswire
Newswire Selasa, 11 Agustus 2026 04:37 WIB
Gempa M7,4 Guncang Kolombia, 6 Bandara Rusak dan Ditutup

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock

Harianjogja.com, JAKARTA— Gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah barat Kolombia hingga menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur bandara. Otoritas Penerbangan Sipil Kolombia atau Aerocivil menyatakan enam bandara mengalami kerusakan dan sementara waktu harus menghentikan aktivitas penerbangan demi keselamatan penumpang serta petugas.

Enam bandara yang terdampak berada di wilayah Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura. Penghentian operasional dilakukan hingga pemeriksaan terhadap kondisi infrastruktur di masing-masing bandara selesai dilakukan.

"Bandara di wilayah Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura mengalami kerusakan. Demi keselamatan, aktivitas penerbangan di sejumlah bandara tersebut diberhentikan hingga evaluasi kerusakan infrastruktur selesai dilakukan," demikian pernyataan resmi Aerocivil, Senin.

Gempa tersebut sebelumnya dilaporkan memiliki kekuatan magnitudo 6,8 berdasarkan laporan Lembaga Seismologi Eropa-Mediterania (EMSC). Namun, para ahli seismologi Eropa kemudian memperbarui kekuatan gempa menjadi magnitudo 7,4.

Besaran tersebut juga sejalan dengan hasil analisis para pakar di Amerika Serikat. Dengan kekuatan tersebut, gempa tergolong sangat kuat dan berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan maupun infrastruktur, terutama di wilayah yang berada dekat dengan pusat gempa.

Pusat Gempa Dekat San Jose del Palmar

Titik pusat gempa dilaporkan berada di sekitar Kota San Jose del Palmar, wilayah Choco. Guncangan kuat yang terjadi di kawasan tersebut berdampak terhadap sejumlah fasilitas transportasi udara.

Penghentian operasional enam bandara dilakukan sebagai langkah antisipasi. Pemeriksaan terhadap kondisi landasan, bangunan terminal, serta fasilitas pendukung lainnya diperlukan sebelum penerbangan kembali diizinkan.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan pascagempa karena kerusakan yang tidak terlihat secara langsung dapat membahayakan keselamatan penerbangan maupun pengguna jasa bandara.

Gempa bumi juga kembali menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Mitigasi diperlukan untuk menekan risiko korban jiwa sekaligus kerugian material ketika gempa terjadi.

Mitigasi Gempa Perlu Diperkuat

Mitigasi bencana gempa dapat dilakukan melalui pendekatan struktural dan nonstruktural. Dari sisi struktural, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memastikan bangunan dirancang dengan standar tahan gempa.

Penataan tata ruang berdasarkan pemetaan wilayah rawan gempa juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko. Selain itu, jalur evakuasi yang jelas perlu tersedia di berbagai fasilitas publik agar masyarakat dapat segera menuju lokasi aman ketika terjadi guncangan.

Sementara itu, mitigasi nonstruktural dapat dilakukan melalui penguatan regulasi dan standar konstruksi, pengembangan sistem peringatan dini yang terintegrasi, serta penyediaan perlengkapan darurat di tingkat rumah tangga.

Tas siaga bencana menjadi salah satu perlengkapan yang dapat disiapkan masyarakat untuk menghadapi kondisi darurat setelah gempa. Isinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan anggota keluarga dan kondisi wilayah tempat tinggal.

Edukasi Masyarakat Jadi Kunci

Selain kesiapan infrastruktur, keberhasilan mitigasi gempa sangat bergantung pada pengetahuan dan respons masyarakat ketika bencana terjadi.

Edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui simulasi evakuasi di sekolah, perkantoran, fasilitas publik, hingga lingkungan permukiman. Latihan tersebut dapat membantu masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Salah satu prinsip dasar penyelamatan diri saat gempa adalah drop, cover, hold on, yakni segera merunduk atau menjatuhkan tubuh, berlindung di bawah meja atau struktur kokoh, kemudian berpegangan hingga guncangan berhenti.

Masyarakat juga perlu menjauhi kaca, benda yang mudah jatuh, serta struktur bangunan yang berpotensi roboh. Ketika kondisi memungkinkan untuk melakukan evakuasi, warga sebaiknya menuju titik kumpul dengan tetap tenang dan tidak berdesak-desakan.

Kesiapsiagaan tersebut penting karena respons beberapa menit pertama setelah gempa dapat menentukan tingkat keselamatan masyarakat. Edukasi dan latihan yang dilakukan secara rutin diharapkan mampu membentuk budaya sadar bencana sekaligus mengurangi risiko korban ketika gempa kuat terjadi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online