IRGC Sebut Jalur Selatan Selat Hormuz Telah Dipasangi Ranjau

Newswire
Newswire Kamis, 23 Juli 2026 09:47 WIB
IRGC Sebut Jalur Selatan Selat Hormuz Telah Dipasangi Ranjau

Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik

Harianjogja.com, TEHERAN—Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Mohebbi, menyatakan jalur selatan Selat Hormuz telah dipasangi ranjau. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (22/7), menyusul ancaman terbaru yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terkait konflik di jalur pelayaran strategis tersebut.

Mohebbi menegaskan pemasangan ranjau di jalur selatan Selat Hormuz merupakan peringatan atas situasi yang terus memanas di kawasan.

“Jalur selatan Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau akan menghancurkan investasi Anda. Jangan terjebak oleh tipu daya Amerika Serikat,” kata Mohebbi.

Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran

Sebelum pernyataan IRGC itu muncul, Donald Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran, termasuk di Teheran, setiap kali Republik Islam tersebut melancarkan serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Ancaman itu menjadi bagian dari eskalasi terbaru dalam hubungan kedua negara yang kembali memanas setelah gencatan senjata dinyatakan tidak lagi berlaku.

Iran Sebut AS Memicu Eskalasi

Sementara itu, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Amerika Serikat memicu ketegangan dengan berupaya mengalihkan lalu lintas pelayaran melalui jalur selatan atau wilayah Oman.

Menurutnya, Teheran menginginkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menggunakan jalur yang berada di wilayah Iran.

Selat Hormuz Masih Ditutup

Di sisi lain, Komando Pusat Khatam al-Anbiya Iran kembali menegaskan bahwa jalur perairan Selat Hormuz hingga kini masih ditutup untuk pelayaran.

Apabila pemerintah Iran memutuskan membuka kembali jalur tersebut, seluruh kapal diwajibkan melintas melalui rute yang telah ditetapkan oleh Iran.

Konflik Kembali Memanas

Sebelumnya, pada malam menuju 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani memorandum yang mengatur penghentian konflik yang dimulai pada 28 Februari.

Namun, situasi kembali berubah sejak 8 Juli, ketika pasukan Amerika Serikat melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi tersebut sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Setelah itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran tidak lagi berlaku.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online