Menhaj: Presiden Prabowo Tak Akan Campur Tangan di Muktamar NU

Julianus Palermo
Julianus Palermo Jum'at, 03 Juli 2026 09:47 WIB
Menhaj: Presiden Prabowo Tak Akan Campur Tangan di Muktamar NU

Logo Nahdlatul Ulama (NU)

Harianjogja.com, SURABAYA—Presiden Prabowo Subianto dipastikan tidak akan mencampuri proses pelaksanaan maupun pemilihan kepengurusan dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-35. Penegasan itu disampaikan Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf di tengah mencuatnya isu mengenai dugaan keterlibatan "poros Istana" menjelang forum tertinggi organisasi tersebut.

Muktamar NU Ke-35 dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Dalam forum tersebut akan dipilih Ketua Umum dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan memimpin organisasi untuk periode lima tahun mendatang.

Irfan Yusuf menegaskan kabar mengenai adanya "poros Istana" yang disebut ikut mengarahkan jalannya Muktamar NU tidak benar. Menurutnya, Presiden Prabowo justru sangat menghormati independensi NU sehingga tidak akan melakukan intervensi terhadap proses organisasi tersebut.

"Poros Istana itu tidak ada. Presiden Prabowo itu sangat menghormati NU, sehingga beliau tidak akan ikut cawe-cawe," ungkap Irfan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan Presiden Prabowo maupun jajaran kabinet tidak akan terlibat dalam seluruh rangkaian pemilihan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia tersebut. Menurutnya, pemerintah juga tidak memberikan dukungan kepada kandidat tertentu dan tetap menjunjung tinggi kemandirian organisasi.

Irfan menambahkan, apabila ada pihak yang mengklaim memperoleh restu atau dukungan Presiden untuk maju dalam Muktamar NU Ke-35, klaim tersebut merupakan pernyataan sepihak dan tidak mencerminkan sikap resmi Presiden.

"Jadi kalau selama ini ada pihak yang mengklaim, 'saya didukung presiden', tidak ada. Presiden sangat menghormati Nahdlatul Ulama. Beliau tidak ingin NU dikotori oleh pihak-pihak di luar NU. Beliau hanya mengharapkan satu, yang terbaik untuk NU. Itu saja," ujarnya.

Selain membantah isu campur tangan Istana, Irfan juga menyoroti dinamika yang berkembang menjelang Muktamar NU Ke-35. Ia mengaku prihatin terhadap munculnya praktik-praktik yang dinilai tidak sejalan dengan nilai organisasi.

Saat melakukan kunjungan ke sejumlah daerah untuk menyambut kepulangan jemaah haji, Irfan mengaku menerima berbagai laporan mengenai kandidat yang diduga menjanjikan sesuatu kepada pihak tertentu maupun menemui sejumlah kepala daerah guna mencari dukungan menjelang muktamar.

Menurutnya, proses memilih pemimpin NU semestinya berlangsung secara bermartabat tanpa menghalalkan segala cara. Ia menilai sosok yang layak memimpin akan memperoleh dukungan warga NU tanpa harus menggunakan praktik politik uang maupun janji-janji tertentu.

"Dinamika di muktamar adalah mencari pemimpin. Mencari pemimpin, tapi tidak seperti sekarang ini, di mana saling menghalalkan segala cara. Kenapa harus seperti itu? Kalau umat telah ingin melihat bahwa Anda memang layak, tanpa ngasih uang pun akan dipilih, tanpa money politics pun akan dipilih," paparnya.

Sebagai salah satu cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari, Irfan berharap Muktamar NU Ke-35 dapat berlangsung dengan tetap menjaga marwah organisasi serta nilai-nilai yang diwariskan para ulama. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan di NU merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar jabatan yang diperebutkan.

"Mudah-mudahan mereka yang sangat jauh dari Qanun Asasi NU bisa sadar bahwa NU itu bukan barang warisan yang diperebutkan. Sekali lagi, bukan barang warisan yang diperebutkan. Itu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online