Penumpang Pesawat Domestik Anjlok pada April 2026, Ini Penyebabnya

Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina Selasa, 02 Juni 2026 17:37 WIB
Penumpang Pesawat Domestik Anjlok pada April 2026, Ini Penyebabnya

Foto ilustrasi radar pesawat. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan tajam jumlah penumpang angkutan udara domestik pada April 2026. Fenomena ini terjadi setelah berakhirnya periode puncak mobilitas masyarakat selama musim mudik dan libur Idulfitri yang berlangsung pada Maret lalu.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengungkapkan, penurunan tidak hanya terjadi pada angkutan udara domestik, tetapi juga pada sejumlah moda transportasi lain seperti angkutan laut serta angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP).

“Sedangkan [secara bulanan] angkutan udara internasional dan angkutan kereta mengalami peningkatan,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Secara rinci, jumlah penumpang pesawat domestik pada April 2026 tercatat sebanyak 4,57 juta orang. Angka ini turun 18,72% secara bulanan (month to month/MtM) dan juga merosot 15,85% secara tahunan (year on year/YoY). Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa bulan terakhir.

Selain faktor berakhirnya musim mudik, lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) juga turut memengaruhi penurunan tersebut. BPS mencatat harga avtur pada April 2026 meningkat signifikan dibandingkan Maret, bahkan mencapai lebih dari 70% secara bulanan.

Penurunan penumpang domestik terlihat di sejumlah bandara utama, seperti Hasanuddin Makassar turun 13,24%, Soekarno-Hatta Tangerang 8,66%, serta Kualanamu Medan sebesar 6,36%.

Sebaliknya, penumpang angkutan udara internasional justru mengalami kenaikan tipis. Jumlahnya mencapai 1,56 juta orang atau naik 0,93% dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun masih turun 1,78% secara tahunan. Bandara Soekarno-Hatta menjadi penyumbang terbesar dengan 632.100 penumpang atau 40,54% dari total perjalanan internasional.

Pada moda transportasi laut, jumlah penumpang domestik tercatat 2,93 juta orang, turun 6,17% MtM dan 9,81% YoY. Penurunan signifikan terjadi di Pelabuhan Balikpapan hingga 50,81%, disusul Makassar dan Tanjung Priok. Namun, lonjakan justru terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak dan Belawan.

Penurunan paling tajam terjadi pada angkutan ASDP. Jumlah penumpang hanya mencapai 4,69 juta orang atau turun 33,54% secara bulanan dan 24,99% secara tahunan. Seluruh pelabuhan utama mengalami penurunan, termasuk Bakauheni, Merak, hingga Gilimanuk.

Di tengah tren penurunan tersebut, moda kereta api justru mencatat kinerja positif. Jumlah penumpang kereta pada April 2026 mencapai 48,28 juta orang, naik 0,30% dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 7,65% secara tahunan.

Mayoritas penumpang berasal dari wilayah Jabodetabek, terutama pengguna KRL yang mencapai 30,6 juta orang atau 63,35% dari total penumpang kereta. Selain itu, peningkatan juga terjadi pada MRT, LRT, dan kereta cepat Whoosh.

Meski demikian, beberapa rute kereta di luar Jabodetabek masih mengalami penurunan. Bahkan, pengguna kereta bandara ikut turun 9,84% sejalan dengan menurunnya jumlah penumpang pesawat domestik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pola mobilitas masyarakat mulai kembali normal setelah puncak libur panjang, dengan pergeseran preferensi transportasi ke moda yang lebih efisien dan terjangkau seperti kereta api.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online