Ledakan Dahsyat di Myanmar Tewaskan 55 Orang, 70 Terluka

Jumali
Jumali Senin, 01 Juni 2026 14:27 WIB
Ledakan Dahsyat di Myanmar Tewaskan 55 Orang, 70 Terluka

Ilustrasi Ledakan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Tragedi besar mengguncang wilayah perbatasan Myanmar-Tiongkok setelah ledakan dahsyat menghantam Desa Kaung Tat, Kota Namkham, Negara Bagian Shan, Myanmar, pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Sedikitnya 55 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 70 lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Ledakan terjadi di wilayah yang berada di bawah kendali kelompok bersenjata etnis Ta'ang National Liberation Army (TNLA), salah satu kelompok pemberontak terkuat yang menentang pemerintahan junta militer Myanmar.

Daya ledak yang sangat besar menyebabkan kerusakan luas di kawasan permukiman. Lebih dari 100 rumah dilaporkan rusak berat, sementara sebagian bangunan lainnya rata dengan tanah. Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap raksasa, kawah besar di lokasi ledakan, serta puing-puing bangunan yang berserakan di berbagai titik.

Berdasarkan laporan BBC, korban tewas terdiri atas sekitar 30 laki-laki dan 25 perempuan, termasuk sejumlah anak-anak. Tim penyelamat masih melakukan pencarian untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun reruntuhan.

Dalam pernyataan resminya, TNLA mengakui ledakan berasal dari gudang penyimpanan gelignit, bahan peledak yang umum digunakan dalam industri pertambangan dan penggalian batu.

Kelompok tersebut menyebut insiden itu sebagai kecelakaan yang tidak disengaja. TNLA menyatakan penyelidikan internal sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti ledakan sekaligus menentukan pihak yang bertanggung jawab.

"Karena ledakan ini, banyak warga setempat kehilangan nyawa, mengalami luka-luka, dan rumah mereka mengalami kerusakan," demikian pernyataan TNLA.

Gelignit merupakan bahan peledak industri yang lazim digunakan dalam aktivitas pertambangan. Namun, material tersebut dapat menjadi tidak stabil dan berbahaya apabila disimpan dalam kondisi yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Kepanikan melanda warga sesaat setelah ledakan terjadi. Sejumlah saksi mengaku sempat mengira wilayah mereka menjadi sasaran serangan udara karena kekuatan ledakan yang sangat besar.

Seorang warga yang selamat menggambarkan momen tersebut sebagai pengalaman yang mengerikan. Ia mengaku sedang berada di kamar tidur ketika ledakan terjadi dan meyakini dirinya lolos dari maut hanya karena kebetulan tidak berada di dapur rumahnya.

"Rasanya seperti dunia telah berakhir," tulis warga tersebut melalui media sosial.

Insiden ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai standar keselamatan penyimpanan bahan peledak di wilayah konflik. Sejumlah warga mempertanyakan alasan fasilitas penyimpanan bahan peledak berada begitu dekat dengan kawasan permukiman.

Mereka juga mendesak adanya penjelasan transparan dari pihak berwenang terkait penyebab tragedi tersebut dan langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

TNLA selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok bersenjata etnis paling berpengaruh di Myanmar. Seperti banyak kelompok pemberontak lainnya, mereka disebut mengandalkan sektor pertambangan sebagai salah satu sumber pendanaan utama di tengah konflik berkepanjangan dengan junta militer.

Myanmar sendiri masih dilanda konflik sejak militer menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Kudeta tersebut memicu gelombang perlawanan yang berkembang menjadi konflik bersenjata di berbagai wilayah negara itu.

Hingga kini proses evakuasi dan penanganan korban masih berlangsung. TNLA menyatakan akan menyalurkan bantuan darurat, layanan medis, serta dukungan pemukiman kembali bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat ledakan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online