Pabrik Hidrogen Hijau Pertama Pertamina Siap Beroperasi Tahun Ini
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Ilustrasi keracunan/JIBI
Harianjogja.com, BOYOLALI—Puluhan warga dari empat RT di Kelurahan Banaran dan Desa Karanggeneng, Boyolali, mengalami gejala keracunan seusai menghadiri acara hajatan manten di RT 001/RW 003, Banaran, Minggu (26/2/2023).
BACA JUGA: 500 Lebih Mahasiswa di Malang Keracunan Makanan
Ketua RT setempat, Joko Apriyanto, membenarkan informasi tersebut. Ia mengungkapkan warga yang mengalami gejala seperti mual dan diare sudah diminta datang ke joglo RT setempat untuk mendapatkan pemeriksaan gratis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Senin (27/2/2023).
“Data sementara di-list saya itu hanya 29 orang, tapi yang periksa ke sini 50-an orang ada. Soalnya yang ke sini bukan hanya RT saya,” kata dia saat ditemui Solopos.com-jaringan Harianjogja.com, di lokasi pemeriksaan.
Ia menjelaskan warga yang datang memeriksakan diri dengan gejala keracunan tak hanya warga RT 001/RW 003, tapi juga RT 002/RW 003, RT 007/RW 002 wilayah Banaran, dan RT 001 RW 002 Karanggeneng, Boyolali.
Joko mengungkapkan beberapa warga sudah ada yang berinisiatif periksa terlebih dahulu ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes). “Ada tiga orang yang masuk rumah sakit semalam, yang dua orang sudah pulang tadi pagi,” kata dia.
Joko mengungkapkan keluarga besan warganya yang menggelar hajatan manten, yang merupakan warga Cepogo, Boyolali, juga mengalami sakit. Mereka telah mendapatkan pertolongan dari tim medis Puskesmas Cepogo.
Sementara itu, salah satu warga Banaran, Boyolali, yang mengalami gejala keracunan dan sempat dilarikan ke RS, Tapik, 64, mengaku menghadiri hajatan yang dimulai pukul 09.00 WIB-11.30 WIB pada Minggu. Di lokasi, ia sempat memakan olahan daging sapi dan ayam. Saat pulang, ia tak langsung merasakan sakit.
“Baru mulai jam 7 malam [pukul 19.00 WIB] perut itu sakit, mual, diare sampai jam 10 malam [pukul 22.00 WIB], saya udah enggak kuat apa-apa. Terus dibawa ke rumah sakit tapi saya enggak sadar,” kata dia.
Ia mengungkapkan setelah dirawat di RS PKU Aisyiyah Boyolali kondisinya mulai membaik, hanya lemas. Awalnya Tapik tak menduga ia menjadi korban keracunan massal. Akan tetapi pada Senin pagi, anaknya memberi tahu bahwa yang sakit bukan hanya dirinya.
Sementara itu, warga lain, Sutrisno, mengaku hampir semua warga mulai mengalami gejala mual, muntah, dan diare sejak pukul 18.00 WIB. Dia sendiri merasakan mulai merasakan sakit perut pukul 15.00 WIB.
“Saya kan punya asam lambung, saya kira itu asam lambung saya. Terus jam 6 [pukul 18.00 WIB] terus-terusan muntah, mual, diare sampai jam 3 pagi [03.00] tadi,” kata dia.
Ia mengungkapkan datang hajatan di Banaran, Boyolali, itu bersama istrinya, akan tetapi istrinya tak mengalami gejala keracunan. Sutrisno menduga hal tersebut karena sang istri hanya makan sup.
“Kemarin kalau enggak salah undangannya ada 600-an, untuk makanan yang disajikan seperti orang hajatan pada umumnya, kreni, dan terik,” kata dia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
BRI Peduli menggelar kegiatan edukatif Hari Anak Nasional 2026 di enam sekolah penerima Program Ini Sekolahku.
Utang pemerintah melalui SBN mencapai Rp501,2 triliun hingga Juni 2026 atau 62,7% dari target APBN 2026.
Tiga remaja di Sragen menjadi korban curanmor bermodus mengaku petugas Banpol. Pelaku membawa kabur sepeda motor dan ponsel korban.
Kebakaran melanda Pasar Modern BSB Semarang. Diduga dipicu kebocoran tabung gas di warung soto, sebanyak 179 kios terdampak.