Samin Tan Didakwa Cuci Uang Rp18,1 Triliun dari Batu Bara
Samin Tan didakwa melakukan pencucian uang Rp18,1 triliun dari penjualan batu bara PT AKT yang diduga berasal dari pertambangan ilegal.
Peneliti Sosial dan Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati. /Lark
Harianjogja.com, JOGJA--Peneliti Sosial dan Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan masyarakat saat ini mulai menyongsong penerapan model kerja hibrida atau hybrid working atau secara digital. Selain membuka kemungkinan untuk meningkatkan produktivitas karyawan, namun juga menuntut pimpinan organisasi atau perusahaan agar tepat memilih teknologi yang digunakan.
"Dengan konsep yang fleksibel, model kerja ini muncul sebagai jawaban terhadap era baru," ucap Devie dalam acara Lark End-of-Year secara virtual, Senin (14/12/2020).
BACA JUGA : Pandemi Mendorong Percepatan Transformasi Digital
Devie meyakini situasi pandemi Covid-19 menjadi jembatan terhadap masa depan dan akselerator untuk transformasi digital. Situasi tidak akan kembali seperti sebelum pandemi, namun masyarakat akan terus beradaptasi pada perubahan zaman dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital.
"Masyarakat telah menjadi pribadi yang adaptif di tengah ketidakpastian akan pandemi dengan beradaptasi pada perubahan melalui cara-cara baru untuk menjalani aktivitas kesehariannya," katanya.
Fenomena tersebut diperkuat dengan hasil penelitian terkini dari Cisco yang menunjukkan peningkatan cara bekerja hibrida berdampak pada operasional perusahaan. Diprediksi, 77% organisasi besar akan meningkatkan fleksibilitas kerja, sementara 53% organisasi besar akan memperkecil ukuran kantor.
Namun, penerapan hybrid working bukan semata-mata mengubah struktur organisasi dan penempatan strategis, tetapi juga memberikan efek pada semua level dalam bisnis seperti pengaturan tugas, aktivitas, proses manajemen, dan penguasaan teknologi. Jika model kerja remote memang sepenuhnya mengandalkan teknologi, dalam model kerja hibrida justru kombinasi antara kompetensi tenaga manusia dengan teknologi menjadi yang utama.
BACA JUGA : Pandemi Percepat Transformasi Digital di Sektor Bisnis
“Penerapan model kerja ini harus melibatkan peran pemimpin yang perhatian dan cepat tanggap, terutama dalam mengusulkan teknologi apa yang cocok, baik untuk usaha besar, menengah, maupun kecil,” ucapnya.
Senior Professional Service Consultant Lark Suryanto Lee mengatakan platform kolaborasi digital, Lark, hadir sebagai inovasi cara kerja virtual. Aplikasi ini mentransformasi cara berkolaborasi di tempat kerja dengan menggabungkan berbagai collaboration tools penting dalam satu platform yang saling terhubung.
Menurutnya keunggulannya dapat mengerjakan berbagai macam hal, dari membuat dan mengedit dokumen, menerima email, mengirimkan pesan, mengelola agenda, hingga menelepon, melakukan video conference dalam satu aplikasi. "Dengan demikian, mampu memaksimalkan produktivitas karyawan dalam bekerja dan meningkatkan kompetensi digital dalam penerapan hybrid working," katanya.
Lark menghadirkan fitur seperti grup chat yang bisa menjangkau hingga 5.000 orang, panggilan video tanpa batas hingga 100 peserta. Selain itu penyimpanan cloud gratis hingga 200GB memungkinkan para pengguna untuk berkolaborasi secara dinamis.
Selain itu mampu menjadi pusat kontrol yang memungkinkan tahap kerja terotomatisasi seperti persetujuan, alur kerja, pengeluara, dan data kehadiran dapat diintegrasikan. Untuk lebih meningkatkan kolaborasi, Lark juga memiliki fitur Magic Share. “Ini merupakan fitur unik yang memungkinkan tim untuk berbagi dan mengedit dokumen dalam video call secara realtime,” katanya.
CEO Rumah Siap Kerja Roestiandi Tsamanov dalam kesempatan itu menambahkan nilai kepemimpinan sangat penting dalam menentukan performa bisnis ke depan, terlebih di era post normal yang akan memberikan perubahan besar di industri. Seorang pemimpin perusahaan maupun UMKM perlu berfikir secara solutif di tengah tantangan yang sedang dihadapi untuk tetap bertahan dan menjaga kestabilan bisnis.
"Komunikasi juga harus dibangun secara terus menerus agar mempererat hubungan antar pegawai dan perlu adanya penerapan teknologi yang baik untuk mendukung hal tersebut," katanya.
Ia mengatakan inisiatif yang dapat dilakukan dalam beradaptasi pada era cara kerja baru harus diperkuat dengan indikator kerja utama yang tepat. Hal ini menjadi penting untuk tetap menjaga efektivitas dan efisiensi dalam bekerja, sekaligus menunjang karyawan untuk meningkatkan produktivitas dengan pengukuran yang ideal.
"Pelaku usaha perlu menentukan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi, sehingga setiap proses bekerja dapat berjalan sesuai dengan tujuan. Kami melihat bahwa UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital terbukti dapat meraih peluang yang lebih besar," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Samin Tan didakwa melakukan pencucian uang Rp18,1 triliun dari penjualan batu bara PT AKT yang diduga berasal dari pertambangan ilegal.
KPK menyita Rp2 miliar dari BR dalam penyidikan dugaan korupsi digitalisasi SPBU Pertamina periode 2018–2023.
Ambulans Yayasan Lazia Pioner LHI dilempar pemotor di Gamping, Sleman. Pintu kendaraan penyok dan polisi memburu terduga pelaku.
Kebiasaan menghadapi orang pesimistis bisa menguras emosi. Simak lima cara menjaga batasan dan suasana hati menurut psikolog.
Kuota BBL Bantul 2027 belum ditetapkan. Sebanyak 10 kelompok nelayan berizin menunggu kepastian untuk kembali menangkap benih lobster.
Simak daftar 10 penguasa monarki terkaya di dunia. Kekayaannya ditaksir mencapai puluhan miliar dolar AS, tetapi sejumlah angka masih diperdebatkan.