Putra Mahkota Arab Saudi Diduga Membujuk Israel Agar Menyerang Wilayah Gaza

Mohammed bin Salman. - Reuters
15 November 2018 11:50 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman diduga merayu Israel agar menyerang wilayah Gaza, Palestina.

Putra Mahkota Dinasti Saud di Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman, disebut membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melakukan serangan agresi baru ke Jalur Gaza, agar perhatian publik dunia teralihkan dari skandal mutilasi jurnalis Jamal Khashoggi.

Hal tersebut diungkapkan sumber anonim dalam Kerajaan Saudi kepada Middle East Eye, Selasa (13/11/2018).

Dalam laman Middle East Eye edisi Prancis, serangan Israel terhadap Gaza yang hingga kekinian masih berlangsung merupakan skenario satuan tugas rahasia Saudi-Israel karena Turki sudah membocorkan informasi detail mengenai mutilasi Khashoggi.

“Satuan tugas rahasia Saudi itu terdiri dari pejabat istana, kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, dinas intelijen. Satgas itulah yang memberikan arahan kepada putra mahkota setiap enam jam sekali,” kata Sumber tersebut.

Dalam salah satu sarannya, satgas menilai peperangan di Gaza bisa mengganggu perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait peran Saudi dalam pembunuhan kolumnis Washington Post di kantor Konsulat Jenderal Saudi Istanbul, Turki.

Tak hanya itu, Sumber MEE juga mengungkapkan, satgas tersebut menyarankan Mohammed bin Salman untuk “menetralkan Turki dengan segala cara”.

“Salah satunya menyuap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan menawarkan untuk membeli senjata. Putra Mahkota juga diminta berkomentar untuk menyenangkan hati Erdogan.”

Setelahnya, dalam berkas investigasi yang diekuarkan Saudi bulan Oktober, Mohammed bin Salman membuat pernyataan ada dugaan kasus pembunuhan Khashoggi dipolitisasi untuk merenggangkan hubungan Saudi – Turki.

“Namun, hal itu tak bakal terjadi selama ada seorang raja yang disebut Raja Salman bin Abdulaziz dan seorang putra mahkota bernama Mohammed bin Salman di Arab Saudi," demikian pernyataan putra mahkota dalam berkas investigasi tersebut.

Khashoggi dibunuh secara brutal dalam kantor konsulat Saudi di Istanbul pada tanggal 2 Oktober 2018. Pembunuhan disertai mutilasi itu diyakini oleh Turki dilakukan tim pembunuh yang berisi sejumlah anggota pengawal pribadi Mohammed bin Salman.

Namun, pejabat Saudi sudah membantah Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengetahui pembunuhan tersebut.

MEE menuliskan, Arab Saudi dan Israel memiliki hubungan rahasia dan kekinian semakin erat karena didorong permusuhan mereka terhadap Iran.

Kepentingan Saudi untuk mengalahkan hegemoni Republik Islam Iran di Timur Tengah, membuat Israel yang sejak lama berekutu dengan AS menyodorkan agenda perdamaian yang timpang terkait Palestina.

Israel dan AS meminta Saudi membujuk otoritas Palestina untuk berdamai dan menerima kenyataan Yerusalem bukan ibu kota mereka.

Namun, MEE mengakui tidak dapat mengonfirmasi kepada pihak-pihak terkait, mengenai apakah serangan Israel ke Gaza terkini dipengaruhi oleh permintaan Mohammed bin Salman kepada Netanyahu.

Sumber : Suara.com