Duh...Generasi Milenial Ternyata Lebih Mudah Menerima Politik Uang

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini./Bisnis - Gloria Fransisca
23 Oktober 2018 14:50 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA –Soal politik uang, generasi milenial dinilai tak lebih baik dibanding geenrasi tua. 

Generasi milenial yang disinyalir sebagai salah satu penyumbang suara terbesar pada Pemilu 2019 ternyata lebih rentan terkena politik uang.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan menurut penelitian dari Andrew Garner, bahwa di Indonesia, lebih banyak milenial yang bersedia menerima uang dalam proses Pemilu ketimbang generasi tua.

“Ini karena mereka bagian dari struktur sosial. Ini adalah hasil penelitian Andrew Garner tentang Pilkada di Jatim dan Jateng kemarin, anak muda untuk urusan politik uang lebih permisif untuk menerima ketimbang orangtua,” jelas Titi, Senin (22/10/2018) di JSC EV Hive.

Dia menyebut untuk Pemilu 2019 mendatang, ada sekitar 185 juta pemilih dalam negeri dan 2 juta pemilih di luar negeri. Pemilu serentak di Indonesia berlangsung dalam satu hari, tidak seperti India yang serentak dilakukan dalam satu pekan, di mana per hari rakyat memilih yang berbeda.

Titi menyebut, untuk menguatkan sosialisasi Pemilu sehat dan bersih anti money politic, maka perlu ada kerja sama setiap elemen negara yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan kementerian dan instansi lain. Menurut Titi, KPU tidak bisa hanya bergantung pada sosialisasi dari media massa dan melalui iklan layanan masyarakat.

“Dana untuk sosialisasi ada banyak, selama ini baru digunakan dengan metode ceramah, iklan, padahal Pemilu mewajibkan iklan layanan masyarakat juga. TV dna radio juga penting meski medsos pengaruhnya juga semakin besar. Jadi untuk sosialisasi KPU memang harus dibantu,” terang Titi.

Sementara itu, Ahli Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk mengatakan karakter milenial sebagai pemilih adalah golongan yang sesungguhnya apolitis. Namun, mereka sangat tergantung dengan pilihan peer group. Jadi satu orang punya pilihan, maka yang lain akan mengikuti saja.

“Jadi milenial itu hanya tertarik pada apa yang bisa masuk ke dunia mereka. Misalnya saja Sandiaga Uno itu juga melakukan cara kampanye menyasar peer group mereka. Ketemu di lokasi nonton film, café, karena milenial itu apolitis, tetapi sangat rentan dengan peer group,” jelas Hamdi.

 

Sumber : Bisnis.com