Usai Gempa, Sejumlah Masjid di NTB Dirobohkan karena Berbahaya

Evakuasi warga yang tertimpa atap masjid menggunakan alat berat. - Twitter/@Sutopo_PN
14 September 2018 08:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, MATARAM-Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, segera merobohkan sejumlah masjid yang terindikasi berbahaya akibat gempa bumi.

"Dari belasan masjid yang dilaporkan mengalami rusak berat akibat gempa bumi, kami menilai ada tiga masjid yang mendesak untuk dirobohkan karena kondisinya sangat mengkhawatirkan," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPR) Mataram H Mahmuddin Tura di Mataram, Kamis (13/9/2018).

Menurutnya, tiga masjid yang dinilai mendesak untuk dirobohkan itu adalah Masjid Riyadus Sholin Dasan Agung, Masjid Raudatul Jannah Pejeruk Ampenan dan Masjid Perumnas.

Untuk Masjid Riyadus Sholin Dasan Agung, kata Mahmuddin, berdasarkan hasil penilaian tim teknis menyarankan agar masjid tersebut dibongkar total sebab besi dan struktur bangunan, serta selasarnya sudah hancur.

"Apalagi, masjid itu memang bangunan tua sehingga tim teknis menyarankan untuk pembongkaran total, sebab dinilai sudah tidak layak," katanya.

Sementara Masjid Raudatul Jannah Pejeruk Ampenan mengalami kerusakan pada dudukan kubah masjid dan tangga masjid yang dinilai juga berbahya dan segera dilakukan pembongkaran, meskipun struktur bangun lain masih layak.

"Begitu juga dengan Masjid Perumas yang mengalami kerusakan pada kubah masjid dengan bentuk bertingkat mengalami kerusakan parah sebab kubahnya turun hingga lima meter atau menempel di lantai dua," katanya.

Mahmuddin mengakui, proses pembongkaran tiga masjid ini dinilai mendesak bahkan warga sekitar sudah berkali-kali mengusulkan hal itu, akan tetapi sejauh ini pihaknya belum dapat melakukan pembongkaran karena keterbatasan personel dan alat berat.

Dimana personel dan alat berat hingga saat ini masih disiagakan pada empat lingkungan yang terdampak gempa bumi paling parah yakni di Lingkungan Pengempel Indah, Gontoran, Tegal dan Jangkuk.

Karenanya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya telah meminta warga setempat untuk sementara tidak beraktivitas di dalam masjid dan dipasangkan "polisi line".

"Setelah proses pembongkaran dan pembersihan areal diempat lingkungan tersebut, tim kami akan prioritaskan untuk pembongkaran masjid yang diusulkan warga," katanya.

Sumber : Antara