Terduga Teroris di Sleman adalah Juragan Mebel, Rumahnya Dipakai Perang-perangan

Rumah terduga teroris Ghaniy Ridhianto di Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Senin (16/7/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
17 Juli 2018 08:25 WIB Fahmi Ahmad Burhan News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ghaniy Ridhianto, pria yang diduga tewas dalam baku tembak dengan polisi di Jalan Kaliurang Km. 9,5, Sabtu (14/7/2018) pekan lalu adalah juragan furnitur klasik. Tetangganya mengenalnya sebagai sosok tertutup. Rumahnya diduga sering dipakai untuk latihan perang-perangan. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Fahmi Ahmad Burhan dan Irwan A. Syambudi yang mencoba menelusuri latar belakang Ghaniy.

Pagar tembok bata merah itu menjulang sekitar tiga meter, mengurung rumah yang dipakai sebagai showroom mebel, diapit rumah tetangga di kanan kirinya. Bangunan yang didaftarkan namanya di Google sebagai Jovinco Showroom itu di dalamnya dilabur menggunakan cat putih, luasnya sekitar 300 meter persegi. Pekarangan depannya jembar, kira-kira hampir 500 meter persegi.

Rumah Saefudin Zuhri hanya berjarak sekitar dua meter dari bangunan yang sangat tertutup yang terletak di Dusun Terung, Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman itu. Dia acap mengetahui aktivitas keseharian di balik tembok tinggi tersebut.

“Sering kali mendengar bunyi-bunyi seperti gerinda,” kata Saeuddin kepada Harianjogja.com, Senin (16/7/2018).

Ia menganggap itu hanya showroom furnitur biasa. Pemiliknya jarang terlihat dan Saefudin mengiranya sangat sibuk. Kadang ia mencoba bertegur sapa saat berpapasan.

“Saya senyumin dia, dia mukanya malah datar. Selintas saja ketemu,” ucap dia.

Saefudin mulai menaruh syak wasangka tatkala sebulan lalu melihat isi halaman rumah itu. “Ada sasaran tembak, seperti dari kayu, berbentuk lingkaran, di tiap sisinya ada tulisan kafir.”

Menurut Saefudin, warga pun curiga, apalagi beberapa kali intel datang menanyakan tentang si pemilik rumah. Kegiatan di balik tembok menambah keheranan penduduk sekitar.

“Saya sering dengar seperti orang lari-lari, terus latihan pedang, tetapi tidak tahu untuk apa.”

Di luar itu, pemilik rumah tak menunjukkan gelagat aneh. Saefudin mengenalnya dengan nama Ghaniy: bapak beranak tiga, dengan satu istri. Tetapi Saefudin tidak mengenal mereka.

Desas-desus sudah telanjur menjalar, berkaitan dengan sosok Ghaniy yang misterius dan kurang bersahabat.

Saefudin bahkan merasa tetangga dekatnya itu menjauh karena keyakinan. Di rumah, Saefudin menyimpan gamelan yang kerap dimainkan oleh beberapa tetangganya.

“Kami sempat curiga juga jangan-jangan Pak Ghaniy tidak suka dengan gamelan di rumah saya, dan nganggap gamelan ini kafir,” ucap Saefudin.

Foto showroom berdinding putih berarsitektur minimalis yang dipampang di Instagram. Mebel furnitur vintage punya Ghaniy bernama Jovinco, singkatan dari Jogja Vintage Corner, spesialis mebel klasik gaya skandinavian.

Baby Face

Diah Ali adalah tetangga sebelah Ghaniy. Rumahnya persis di sebelah pagar tembok batu bata setinggi tiga meter. Diah sudah menempati rumahnya di Wedomartani itu dari 2012. Ia kenal dengan Ghaniy sejak Ghaniy menempati rumahnya pada 2015.

“Saya melihat Mas Ghaniy di awal-awal ketemu mukanya baby face, mulus,” kata Diah.

Saat Ghaniy baru menempati rumahnya, tiga kali dia bertandang ke rumah Diah.

“Tetapi setelah itu, tidak pernah main lagi, hanya ketemu kalau papasan.”

Diah pun menganggap wajar manakala Ghaniy bersikap tertutup, karena menurut dia Ghaniy adalah orang sibuk. Selama tiga tahun Ghaniy tidak pernah mengikuti berbagai macam acara tetangganya. Bahkan menurut Diah, Ghaniy tidak datang di pernikahan anak Diah.

“Saya bahkan sampai nanya ke penjaga rumahnya, nama lengkap Mas Ghaniy itu siapa, penjaganya malah tidak tahu.”

Rumah Ghaniy terlihat dari Google Streetview di Jl.Terung 2.

Didatangi Polisi

Jufriadi, ketua RT di lingkungan itu sekitar setahun lalu didatangi polisi yang menanyakan sosok Ghaniy.

“Saya bahkan tidak pernah ketemu orangnya, mukanya saja saya tidak tahu.”

Jufriadi sempat meminta identitas Ghaniy, tetapi saat mendatangi rumah bercat putih itu, dia hanya bertemu dengan pekerja furnitur. “Cuma sebagai administrasi kependudukan, tetapi tidak ketemu orangnya,” kata Jufriadi.

Kecurigaan Saefudin dan Jufriadi akhirnya terjawab kala mereka mendapat kabar tetangganya terlibat dalam baku tembak di Jalan Kaliurang Km 9,5, Sabtu petang. Ghaniy yang bernama lengkap Ghaniy Ridhianto diduga terlibat jaringan teroris.

“Ujungnya baru ketahuan. Malam itu ramai perbincangan, salah satu terorisnya Pak Ghaniy,” kata Saefudin.

Minggu (15/7/2018) pukul 02.00 WIB, personel Densus 88 meminta Jufriadi menjadi saksi dan memberikan keterangan perihal Ghaniy. Ia dimintai keterangan sampai pukul 04.00 WIB.

“Akhirnya saya tahu mukanya [Ghaniy] dari gambar terduga teroris yang kemarin meninggal, itu pun kan tidak jelas mukanya gimana,” ujar Jufriadi

Kini, rumah yang juga dijadikan showroom furnitur kosong. “Penjaganya juga dibawa polisi,” kata Jufriadi.

Area rumah Ghaniy terlihat dari udara lewat Google.

Penasaran

Salah satu teman Ghaniy semasa kuliah yang sampai sekarang masih menjalin kontak mengatakan Ghaniy menekuni usaha mebel sejak lima tahun lalu. Dia dan Ghaniy sama-sama lahir pada 1983 dan sekarang dia sangat penasaran karena polisi belum secara resmi merilis identitas tiga orang yang tewas dalam baku tembak akhir pekan lalu. Dia menduga Ghaniy satu dari tiga terduga teroris itu dari sepeda motor yang dia pakai.

“Salah satu pelaku memakai Yamaha Nmax. Setahu saya, dia juga memakai Nmax yang dimodifikasi. Postur tubuhnya juga sangat mirip,” ujar dia sebagaimana dikutip dari Antara.

Pendukung JAD

Jenazah tiga terduga teroris yang ditembak oleh Tim Densus 88 di Jalan Kaliurang Km 9,5 di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Sabtu lalu masih diidentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY, Kalasan.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY, Kompol Theresia Lindawati belum dapat mengungkapkan lebih jauh perihal tiga jenazah tersebut, termasuk identitas maupun penyebab kematian ketiganya.

Sampai dengan Senin siang, belum ada anggota keluarga ketiga terduga teroris tersebut yang mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara untuk mengurus jenazah.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda DIY AKBP Yuliyanto mengatakan ketiga terduga teroris tersebut didor sampai mati lantaran membahayakan petugas, dan sempat menyandera seorang warga. “Mereka semua melawan.”

Menurut keterangan Mabes Polri, tiga terduga teroris itu bergabung dengan kelompok Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).

Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian mengatakan JAK adalah kelompok teroris yang jumlahnya tidak terlalu besar tetapi memiliki kader yang sangat loyal terhadap kelompok teroris paling terkemuka di Indonesia, Jamaah Ansharut Daulah (JAD). JAD adalah pendukung ISIS yang menginginkan berdirinya negara agama di Indonesia.

JAD dipimpin oleh Aman Abdurrahman, gembong teroris yang sudah divonis mati oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Juni lalu. Aman meyakini demokrasi adalah ciptaan setan sehingga semua orang yang menganut demokrasi adalah kafir. Dengan demikian, Aman menyimpulkan masyarakat dan pemerintah Indonesia yang sekarang menerapkan demokrasi layak untuk dimusnahkan.

“JAK ini masih berafiliasi dengan JAD. Kami akan terus menangkap semua teroris ini,” ujar Tito di Jakarta.

Kepolisian juga sudah lama mendeteksi sel teroris JAK tersebut dan akan meringkus semua kadernya di Indonesia. Menurut Tito, dengan adanya Undang-Undang Terorisme yang baru, Polri akan mengambil sikap tegas terhadap para pelaku teror dan menembak mati siapa pun yang melawan petugas saat akan ditangkap.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol. Muhammad Iqbal mengatakan dua personel Densus 88 mengalami luka di bagian tangan akibat serangan kelompok teroris itu. Densus 88 telah menyita enam parang dan satu senjata api revolver beserta peluru dari ketiganya.