Advertisement
Pabrik Rokok HS Buka Lowongan Disabilitas, 70 Karyawan Sudah Bergabung
Pabrik rokok HS di Magelang buka peluang kerja disabilitas, 70 karyawan difabel sudah bekerja dengan fasilitas setara dan inklusif. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, MAGELANG—Pabrik rokok HS terus memperkuat komitmen inklusivitas dengan membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Di tengah masih terbatasnya akses kerja bagi difabel, perusahaan ini justru memberikan ruang luas bagi mereka untuk berkembang.
Langkah konkret itu ditunjukkan dengan telah direkrutnya 70 karyawan disabilitas yang kini aktif bekerja di perusahaan di bawah naungan Surya Group Holding Company. Jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah seiring rencana ekspansi pembangunan pabrik baru di Jogjakarta dan Lampung.
Advertisement
Perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi, menegaskan bahwa perusahaan akan terus membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Indonesia.
"Kami akan terus menerima karyawan disabilitas sesuai arahan pak Muhammad Suryo. Silahkan kawan-kawan disabilitas di seluruh Indonesia untuk bergabung bersama kami," ucapnya, Jumat (24/4).
Ia menambahkan, tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung di pabrik rokok HS. Bahkan pelamar tanpa pengalaman tetap memiliki peluang yang sama untuk diterima.
"Kami juga akan beri pelatihan agar mereka mampu bekerja dengan baik," jelasnya.
Menurut Hanafi, performa karyawan disabilitas di perusahaan tersebut justru menunjukkan hasil yang sangat baik dan tidak kalah bersaing dengan pekerja lainnya.
"Mereka justru lebih semangat, dan kinerjanya juga sangat baik. Kami selalu diingatkan oleh pak Suryo untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini," ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh karyawan diperlakukan setara tanpa diskriminasi. Hak-hak pekerja, mulai dari gaji, makan siang gratis, hingga fasilitas lainnya diberikan secara adil.
"Karena jumlahnya terus bertambah dan mereka banyak yang berasal dari luar kota Magelang. Jadi pak Suryo memerintahkan kami untuk memberikan mess gratis agar memudahkan kawan-kawan difabel ini," pungkasnya.
Salah satu karyawan disabilitas, Shinta (34), warga Magelang, menjadi bukti nyata dampak positif kebijakan tersebut. Penyandang tunarungu dan tunawicara ini kini bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok.
Di balik senyumnya, Shinta menyimpan pengalaman pahit saat berulang kali ditolak kerja akibat stigma terhadap penyandang disabilitas.
"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ucapnya lirih.
Penolakan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi ibu satu anak itu, yang harus pulang dengan rasa kecewa setiap selesai mengikuti proses rekrutmen.
"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya.
Sebelum bergabung di HS, Shinta sempat menjalankan usaha batik tulis skala kecil dari rumah. Namun penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih ia menjadi tulang punggung dan harus membiayai pendidikan anaknya.
"Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan, saya hutang ke bank," katanya.
Kini kondisi ekonominya berangsur membaik. Penghasilan dari pekerjaannya di pabrik rokok HS memungkinkan Shinta mencukupi kebutuhan keluarga, melunasi utang, hingga mulai menabung.
Selain kesejahteraan, lingkungan kerja yang suportif juga menjadi nilai tambah. Karyawan disabilitas mendapatkan pelatihan intensif, perlakuan setara, serta fasilitas makan gratis yang membuat gaji mereka tetap utuh. "Bahkan, HS akan membuatkan mess khusus karyawan disabilitas, itu yang membuat kami nyaman bekerja di sini," tukasnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Fian (26), penyandang disabilitas asal Jogjakarta. Ia mengaku sebelumnya kerap menghadapi perlakuan tidak menyenangkan di tempat kerja lain. "Kami sering dibully, dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan," ucap Fian.
Namun situasi berbeda ia temukan di pabrik rokok HS, di mana seluruh karyawan diperlakukan setara dan saling menghormati. Fasilitas tambahan seperti mess gratis juga menjadi bentuk perhatian perusahaan terhadap kebutuhan difabel yang berasal dari luar daerah.
"Kami harap perusahaan lain bisa mencontoh bagaimana HS mempekerjakan karyawan disabilitas seperti kami. Inklusivitas dunia kerja bukan sekadar narasi, tapi dibuktikan dengan hal yang kongkret," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Polisi Gerebek Daycare di Jogja, Diduga Lakukan Kekerasan Anak
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Obesitas pada Lansia Meningkat, Ini Cara Mencegahnya
- Zulhas: Sekolah Bisa Tolak Makanan MBG Tak Sesuai Standar
- Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Kecam Serangan Israel
- Isu Uang Negara Tinggal Rp120 Triliun, Ini Penjelasan Menkeu
- Bareskrim Usut TPPU Bandar Narkoba, Keluarga Ikut Terseret
- AHY Dorong Mrican Jadi Model Nasional Penataan Kawasan Kumuh
- Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
Advertisement
Advertisement







