Advertisement
Pemerintah Genjot Pompa Air Lawan El Nino Ekstrem
Ilustrasi Kekeringan / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah percepat program pompanisasi dan benih tahan kering untuk hadapi musim kemarau ekstrem akibat El Nino yang diprediksi BMKG lebih panjang dan kering pada 2026. Strategi ini jadi andalan agar lahan sawah tetap hijau dan stok pangan aman bagi petani di berbagai daerah.[1][2]
Kementerian Pertanian siapkan anggaran Rp5 triliun. Lebih dari Rp3 triliun fokus infrastruktur air seperti pompa dan embung di 1,5 juta hektare lahan rawan.
Advertisement
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebut ini kunci utama pasca rapat dengan 170 bupati. “Kami dorong anggaran kita untuk hari ini untuk irigasi Rp3 triliun lebih,” ujarnya di Kantor Kementerian Pertanian, Senin.
Bantuan 80 ribu unit pompa air dibuka pendaftarannya. Targetnya jangkau 1 juta hektare sawah terancam kekeringan.
Prioritas diberikan daerah cepat ajukan. Petani upland tadah hujan diuntungkan paling banyak.
Rp2 triliun lain dialokasikan untuk benih unggul umur pendek. Varietas ini tahan kering dan naikkan indeks tanam dari sekali jadi dua-tiga kali setahun.
“Bantuannya sudah jalan, kita anggarkan semuanya, estimasi Rp2 triliunan,” kata Amran.
“Benih kekeringan kita bantu khususnya yang naikkan IP. Dari satu menjadi dua kali, kita memberi benih yang tahan kekeringan dan umurnya agak pendek,” jelasnya.
Kolaborasi pusat-daerah plus TNI-Polri tekankan Amran. Stok beras nasional kini 4,9 juta ton CBP, proyeksi capai 5 juta ton tak lama lagi.
Produksi padi kuat meski ancaman El Nino Godzilla. Mitigasi ini harap jaga harga stabil dan kesejahteraan petani.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut (SPL) di atas normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur, bagian dari siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO).
Istilah ini berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki", dinamai nelayan Peru karena sering muncul menjelang Natal dengan arus air hangat di pesisir Amerika Selatan.
Fenomena ini melemahkan angin pasat, memindahkan air hangat ke timur, sehingga mengurangi curah hujan di wilayah barat seperti Indonesia, sering memicu kemarau panjang dan kekeringan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Salah Administrasi Desa Tak Boleh Berujung Pidana
- Jadwal KRL Solo-Jogja 20 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
- Tanpa Perluasan Lahan, TPST Modalan Bantul Tingkatkan Daya Olah
- Kemendikdasmen Tindak Tegas Pengawas TKA yang Rekam Soal Ujian
- Jadwal KRL Jogja-Solo 20 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur
- Strategi DIY Tekan Anak Putus Sekolah, Libatkan Desa
- Daftar Password Paling Lemah di 2026, Jangan Dipakai Lagi
Advertisement
Advertisement








