Advertisement

Pemerintah Genjot Pompa Air Lawan El Nino Ekstrem

Newswire
Senin, 20 April 2026 - 17:07 WIB
Sunartono
Pemerintah Genjot Pompa Air Lawan El Nino Ekstrem Ilustrasi Kekeringan / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah percepat program pompanisasi dan benih tahan kering untuk hadapi musim kemarau ekstrem akibat El Nino yang diprediksi BMKG lebih panjang dan kering pada 2026. Strategi ini jadi andalan agar lahan sawah tetap hijau dan stok pangan aman bagi petani di berbagai daerah.[1][2]

Kementerian Pertanian siapkan anggaran Rp5 triliun. Lebih dari Rp3 triliun fokus infrastruktur air seperti pompa dan embung di 1,5 juta hektare lahan rawan.

Advertisement

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebut ini kunci utama pasca rapat dengan 170 bupati. “Kami dorong anggaran kita untuk hari ini untuk irigasi Rp3 triliun lebih,” ujarnya di Kantor Kementerian Pertanian, Senin.

Bantuan 80 ribu unit pompa air dibuka pendaftarannya. Targetnya jangkau 1 juta hektare sawah terancam kekeringan.

Prioritas diberikan daerah cepat ajukan. Petani upland tadah hujan diuntungkan paling banyak.

Rp2 triliun lain dialokasikan untuk benih unggul umur pendek. Varietas ini tahan kering dan naikkan indeks tanam dari sekali jadi dua-tiga kali setahun.

“Bantuannya sudah jalan, kita anggarkan semuanya, estimasi Rp2 triliunan,” kata Amran.

“Benih kekeringan kita bantu khususnya yang naikkan IP. Dari satu menjadi dua kali, kita memberi benih yang tahan kekeringan dan umurnya agak pendek,” jelasnya.

Kolaborasi pusat-daerah plus TNI-Polri tekankan Amran. Stok beras nasional kini 4,9 juta ton CBP, proyeksi capai 5 juta ton tak lama lagi.

Produksi padi kuat meski ancaman El Nino Godzilla. Mitigasi ini harap jaga harga stabil dan kesejahteraan petani.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut (SPL) di atas normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur, bagian dari siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO).

Istilah ini berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki", dinamai nelayan Peru karena sering muncul menjelang Natal dengan arus air hangat di pesisir Amerika Selatan.

Fenomena ini melemahkan angin pasat, memindahkan air hangat ke timur, sehingga mengurangi curah hujan di wilayah barat seperti Indonesia, sering memicu kemarau panjang dan kekeringan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Penanda Batas DIY Disayembarakan, Ini Syarat dan Ketentuannya

Penanda Batas DIY Disayembarakan, Ini Syarat dan Ketentuannya

Jogja
| Senin, 20 April 2026, 18:27 WIB

Advertisement

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!

Wisata
| Senin, 20 April 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement