Advertisement

Belum Ada Kasus, Kemenkes Ingatkan Potensi Virus Nipah di Indonesia

Abdul Hamied Razak
Minggu, 01 Februari 2026 - 15:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Belum Ada Kasus, Kemenkes Ingatkan Potensi Virus Nipah di Indonesia Ilustrasi penyakit / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penularan virus nipah, meskipun hingga kini belum ditemukan kasus konfirmasi di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menyampaikan bahwa virus nipah merupakan penyakit zoonotik yang secara alami hidup pada kelelawar buah. Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara seperti babi, maupun lewat konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, termasuk buah atau nira aren.

Advertisement

“Hingga saat ini Indonesia belum melaporkan adanya kasus virus nipah pada manusia. Namun kewaspadaan harus terus ditingkatkan karena posisi geografis Indonesia dekat dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa penyakit ini, ditambah tingginya mobilitas penduduk,” ujar Murti dalam keterangan resmi, Minggu (1/2/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah penelitian di Indonesia telah menemukan bukti serologis serta deteksi virus nipah pada inang alami, yakni kelelawar buah jenis Pteropus. Temuan ini menunjukkan adanya potensi sumber penularan di dalam negeri.

Murti juga mengingatkan bahwa penularan antarmanusia pernah dilaporkan di beberapa negara, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Gejala penyakit pun sangat bervariasi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut ringan hingga berat, serta peradangan otak atau ensefalitis yang berisiko menyebabkan kematian.

“Manifestasi klinisnya bisa berupa ISPA, pneumonia, hingga gangguan saraf berat. Karena itu deteksi dini sangat penting,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes meminta seluruh dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi untuk terus memantau tren kasus suspek meningitis dan ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, serta pneumonia.

Murti juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengonsumsi produk alam, khususnya nira aren atau air sadapan pohon.

“Kami menyarankan masyarakat tidak langsung meminum nira dari pohonnya karena berpotensi terkontaminasi oleh kelelawar pada malam hari. Sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Selain itu, buah perlu dicuci dan dikupas dengan bersih, serta dibuang jika terdapat bekas gigitan kelelawar,” tuturnya.

Sebagai informasi, kasus virus nipah kembali dilaporkan terjadi di India. Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua kasus konfirmasi di Distrik North 24 Parganas, Negara Bagian West Bengal, tanpa laporan kematian. Seluruh pasien merupakan tenaga kesehatan.

Lebih dari 120 orang yang melakukan kontak erat dengan pasien telah diidentifikasi dan saat ini menjalani karantina sambil dilakukan penyelidikan epidemiologis lebih lanjut oleh otoritas setempat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Gunungkidul Anggarkan Rp588 Miliar Tekan Kemiskinan di 2026

Gunungkidul Anggarkan Rp588 Miliar Tekan Kemiskinan di 2026

Gunungkidul
| Minggu, 01 Februari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement