Advertisement
Sudan Tawarkan Pangkalan Laut ke Rusia Demi Senjata Perang
Ilustrasi Rusia. Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Sudan menawarkan pangkalan angkatan laut di Laut Merah kepada Rusia sebagai imbalan persenjataan untuk menghadapi Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dalam perang saudara yang terus berkecamuk.
Melansir The Wall Street Journal, perjanjian tersebut mencakup pendirian pangkalan angkatan laut Rusia di Pelabuhan Sudan di Laut Merah atau fasilitas lainnya. Pangkalan itu akan menampung 300 personel dan dapat digunakan untuk bersandar hingga empat kapal angkatan laut, termasuk kapal bertenaga nuklir.
Advertisement
Sebagai imbalan, pemerintah Rusia juga akan mendapatkan konsesi pertambangan di Sudan. Sementara itu, militer Sudan akan memperoleh akses ke sistem pertahanan udara (antipesawat) serta perangkat keras militer lainnya dengan harga istimewa.
Melansir The New Arab, para pejabat militer Sudan menyatakan peralatan tersebut sangat dibutuhkan untuk perang melawan RSF. Pertempuran berdarah antara kedua pihak telah berlangsung sejak April 2023 dan telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.
BACA JUGA
Tantangan Diplomatik dan Latar Belakang Kesepakatan
Kesepakatan semacam itu berpotensi menimbulkan masalah diplomatik dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, mengingat hubungan Rusia yang tegang dengan Barat akibat invasi ke Ukraina.
Laporan kesepakatan ini muncul lima tahun setelah pengumuman kesepakatan yang hampir identik oleh Rusia. Perjanjian sebelumnya menguraikan operasi pangkalan angkatan laut selama 25 tahun, dengan kemampuan menampung 300 personel dan hingga empat kapal pada satu waktu, termasuk yang bertenaga nuklir.
Perjanjian lama juga menetapkan perpanjangan otomatis setiap 10 tahun jika tidak ada pihak yang keberatan. Namun, penggulingan diktator lama Omar al-Bashir membuat dewan penguasa militer yang baru meninjau ulang perjanjian tersebut.
Konteks Perkembangan Terkini di Sudan
Pendekatan kembali pemerintah Sudan dengan Rusia terjadi setelah RSF berhasil merebut ibu kota Darfur, El-Fasher, pada akhir Oktober. Kemenangan ini memperkuat kendali RSF atas sebagian besar wilayah Sudan barat.
Jatuhnya El-Fasher diikuti oleh pembantaian warga sipil yang melarikan diri dari kota tersebut. Banyak pengungsi yang kini berada di Tawila menjadi korban kekerasan oleh RSF.
Selain keberhasilan di Darfur, RSF pada hari Senin mengklaim telah menguasai persimpangan transportasi strategis Babanusa di Kordofan Barat. Klaim ini dibantah oleh tentara Sudan.
Provinsi-provinsi di Kordofan telah menjadi medan pertempuran sengit sejak tentara Sudan menguasai ibu kota Khartoum dan kota tetangga Omdurman awal tahun ini.
Perang saudara di Sudan, yang melibatkan beberapa aktor internasional, telah menewaskan setidaknya 150.000 orang. Uni Emirat Arab (UEA) diketahui mendukung RSF, sementara Mesir dan Turki mendukung pemerintah. Rusia sebelumnya juga dilaporkan memberikan dukungan kepada RSF dalam konflik ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- BIGBANG Comeback, Gelar Tur Dunia Perayaan 20 Tahun
- Cuaca Ekstrem Terjang DIY, Gunungkidul Paling Terdampak
- Qatar Tegaskan Tidak Berperang dengan Iran, Klaim Hak Bela Diri
- KPK Umumkan Status Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Hari Ini
- ESDM Buka Peluang Impor Bioetanol AS, Bahlil: Jika Produksi Kurang
- Perang Timur Tengah Belum Ganggu Ekspor DIY, Disperindag Tetap Waspada
- Banjir Rendam 16 Desa di Klaten, 120 Warga Mengungsi
Advertisement
Advertisement








