Advertisement

Buku Antologi Sudirman Said 'Bergerak dengan Kewajaran Dibedah 4 Guru Besar di Jogja

Abdul Hamied Razak
Minggu, 10 Desember 2023 - 07:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Buku Antologi Sudirman Said 'Bergerak dengan Kewajaran Dibedah 4 Guru Besar di Jogja Buku antologi kedua dari Sudirman Said berjudul 'Bergerak dengan Kewajaran' dibedah oleh 4 guru besar di Hotel Santika Jogja, Sabtu (9/12 - 2023).

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Setelah resmi diluncurkan di Teater Salihara, Jakarta, pada 30 November 2023, buku antologi kedua dari Sudirman Said berjudul 'Bergerak dengan Kewajaran' dibedah oleh 4 guru besar di Hotel Santika Jogja, Sabtu (9/12/2023).

Keempat guru besar itu adalah Prof. Armaidy Armawi (Guru Besar Prodi Ketahanan Nasional UGM), Prof. Mifedwil Jandra (Guru Besar Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa), Prof. Nurfina Aznam Guru Besar Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta), dan Prof. Djoko Pekik Irianto (Guru Besar Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta).

Advertisement

BACA JUGA: Ke Rusun Cilincing di Jakarta Utara, Gibran Bagi-bagi Buku

Selain dibedah oleh 4 guru besar, peserta juga berkesempatan untuk berdialog dan tanya jawab terkait dengan buku 'Bergerak dengan Kewajaran'. Buku setebal 409 halaman ini berisi kumpulan tulisan yang merefleksikan beragam perhatian Sudirman terhadap kehidupan publik sepanjang tahun 2016 hingga 2022.

Buku kedua ini merupakan refleksi dari keprihatinan Sudirman Said atas kondisi bangsa, tetapi juga berisi pemikiran, gagasan, dan harapan untuk kehidupan publik yang lebih baik. 

Berbeda dengan buku antologi pertamanya berjudul 'Berpihak pada Kewajaran' yang lebih merefleksikan pemikiran dan perspektif Sudirman dari dalam struktur. 

Sudirman Said yang juga menjadi Co-captain Timnas AMIN, menyampaikan bahwa cara pandang yang harus dijaga dalam mengelola kehidupan kenegaraan dan kebangsaan, tidak boleh semata-mata dari sisi legalistik. Cara pandang legalistik bisa menjadi jebakan bagi semua untuk berbuat apa saja, sepanjang hukum membolehkan. 

“Sementara kita menyaksikan hukum kita diobok-obok, diluluhlantakan untuk kepentingan pribadi penguasa. Oleh karena itu, cara pandang kita harus mencakup aspek kewajaran, kepatutan, kepantasan, yakni cara pandang yang mengedepankan etika dan moralitas,” kata Sudirman melalui keterangan persnya, Minggu (10/12/2023)

Dia menilai, para pemimpin di level paling tinggi, seyogyanya menjunjung tinggi norma kepatutan. Pasalnya, para pemimpin memiliki kekuasaan untuk membolak-balikan hukum, bahkan hingga Undang-undang dan Konstitusi.

Selain itu, katanya, saatnya para kaum terpelajar menjadi garda terdepan dalam menjaga rambu lalu lintas bernegara.

“Dalam cara pandang yang demikian, maka kita patut prihatin karena keadaan Indonesia, keadaan bangsa dan negara tidak sedang baik baik saja. Karena itu, kaum terpelajar perlu mengambil peran memimpin, membangkitkan kesadaran rakyat banyak untuk mengembalikan jalannya kehidupan bernegara ke relnya," tegas Sudirman.

BACA JUGA: Gandeng Seniman Teater, TBY Luncurkan Buku Perjalanan Teater di DIY sejak 1950 sampai Kini

Buku antologi kedua yang dirangkum oleh Agus Mokamat ini terbagi dalam 6 bab dengan topik yang berbeda yang diikat benang merah yaitu tujuan hidup berbangsa dan bernegara.

Bab 1: Ke-Indonesia-an yang Meng-Indonesia. berisikan tulisan yang merefleksikan keindahan Pancasila sebagai fondasi aturan main berbangsa dan bernegara.

Bab 2: Kepemimpinan yang Berkewajaran. Berisi pandangan Sudirman Said mengenai peran pemimpin dalam mengangkat harkat bangsa, serta kerinduannya akan pemimpin yang mampu memicu semangat juang dan etos kerja masyarakat.

Bab 3: Demokrasi yang Menyehat. Di bab ini berisikan pandangan dan harapan penulis mengenai demokrasi yang seharusnya. 

Bab 4: Integritas yang Mengokoh. Sudirman melihat perlunya anak-anak muda diberi kesempatan berlatih di medan sulit untuk mempertangguh diri mereka. Bab 5: Solidaritas. Bab 6: Bermanusia yang Memuliakan.

Buku antologi kedua Sudriman Said ini berisi perjalanannya terhadap kehidupan politik sepanjamg karirnya. Pengalamannya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi salah satu pengalaman terdalam baginya.

"Peran kaum terpelajar, guru besar, dan universitas menjadi garda terdepan dan pemegang rambu etika kewajaran dalam bernegara," tutur Sudirman.

Prof. Djoko Pekik Irianto, Guru Besar Fakultas Keolahragaan UNY menyampaikan, buku ini menekankan bahwa etika seharusnya diutamakan dalam hal kepemimpinan. "Kita sepakat Pak Dirman [Sudirman Said] ingin membawa sebuah pemikiran yang brilian, untuk bagaimana kita menjadikan kondisi kita menjadi lebih baik daripada masa lalu."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Ribuan Pelari dari 22 Negara Meriahkan Coast to Coast Ultra 2024 di Pantai Selatan Bantul

Bantul
| Minggu, 25 Februari 2024, 17:07 WIB

Advertisement

alt

Melihat Kemeriahan Cap Go Meh di Kelenteng Sijuk

Wisata
| Sabtu, 24 Februari 2024, 22:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement