Advertisement

Google Doodle Menampilkan Kapal Pinisi Indonesia, Ini Asal Sejarahnya

Newswire
Kamis, 07 Desember 2023 - 15:47 WIB
Maya Herawati
Google Doodle Menampilkan Kapal Pinisi Indonesia, Ini Asal Sejarahnya Kapal Pinisi / Antara

Advertisement

Harianjogja.com, BANDUNGGoogle Doodle atau logo khusus di beranda Google hari ini, Kamis (7/12/2023) menampilkan gambar kapal Pinisi asli Indonesia. Kapal ini sebelumnya telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO.

Menurut sejarah, kapal Pinisi lahir dari sebuah legenda yang berasal dari tradisi leluhur di pulau-pulau Sulawesi bagian Selatan.

Advertisement

Kapal Pinisi pertama kali dibuat oleh suku Konjo yang bermukim di Kabupaten Bulukumba. Nama Pinisi berasal dari dua kata, "picuru" yang berarti "teladan yang baik" dan "binisi" yang berarti "ikan yang kecil dan lincah". Nama ini diberikan oleh raja mereka pada saat itu untuk menghormati penemuan pelaut tersebut.

Untuk waktu yang lama, kapal ini diperuntukkan bagi perdagangan komersial. Namun saat ini, Pinisi telah menjadi tradisi maritim yang canggih.

Arsitekturnya merupakan kombinasi unik dari konstruksi lama yang biasanya ditemukan dalam budaya Bugis-Makassar, serta inspirasi dari kapal-kapal modern Eropa dan Amerika dari awal abad ke-19.

Kapal Pinisi asli memiliki dua tiang dengan tujuh hingga delapan layar. Berbeda dengan kapal barat yang memiliki 3 tiang, Pinisi hanya memiliki 2 tiang. Tiang depan sedikit lebih tinggi dari tiang buritan, dan layarnya berbaris di tengah.

Setiap tiang dilengkapi dengan layar persegi panjang besar dan layar segitiga kecil, dengan layar besar berada di bagian bawah. Layar lainnya diikat dari tiang depan ke haluan dan biasanya terdiri dari 3 atau 4 layar segitiga kecil.

Kapal Pinisi standar memiliki panjang sekitar 20-35 meter, dan ada varian kecil yang digunakan untuk menangkap ikan dengan panjang hanya sekitar 10 meter.

Model yang lebih baru bisa mencapai hingga 50 meter dan dapat memuat sekitar 30 orang. Namun, hanya ada beberapa Pinisi jenis ini, dan kebanyakan hanya digunakan untuk perjalanan pesiar yang mewah.

Evolusi Modern

Selama bertahun-tahun, desain Pinisi mengalami banyak perubahan agar sesuai dengan zamannya. Pada sekitar tahun 1970, fungsi kapal juga digunakan sebagai transportasi massal dan kargo. Mereka mulai menerapkan jenis lambung yang berbeda yang disebut lambo yang dapat memuat lebih banyak ruangan di dalamnya untuk kabin.

Tak lama kemudian, penemuan kapal bermotor terjadi. Kapal-kapal yang diubah menjadi versi motor disebut PLM atau Perahu Layar Motor.

BACA JUGA: Dinilai Rawan, Bawaslu DIY Awasi Ketat Distribusi Surat Suara

Dengan penggunaan motor, meskipun layar telah dihilangkan karena dianggap mubazir, beberapa kapal Pinisi yang lebih tua masih menggunakan tiang layar untuk tujuan estetika. Baru setelah itu, banyak kapal Phinisi baru yang mulai menyertakan tiang layarnya kembali agar terlihat seperti desain aslinya. Pinisi jenis ini sebagian besar digunakan untuk pelayaran rekreasi, agar para tamu dapat merasakan pengalaman berlayar dengan kapal Phinisi yang asli.

Pinisi untuk Kapal Pesiar Liburan

Pada tahun 1990, beberapa orang Barat yang tinggal di Indonesia melihat potensi untuk membuat kapal pesiar rekreasi berdasarkan desain Pinisi.

Pada awalnya, kapal ini ditujukan untuk penggunaan pribadi oleh orang-orang kelas atas. Namun, kapal ini menjadi sangat populer dan seiring dengan permintaan yang terus meningkat, kapal pesiar Pinisi mulai dibuat untuk penggunaan umum.

Saat ini, Prana Pinisi adalah kapal pesiar pinisi terbesar dan termewah di dunia, yang berlayar di lautan Indonesia.

Kapal pesiar layar motor sepanjang 180 kaki ini dibuat secara lokal di Sulawesi dan diluncurkan untuk pelayaran pertamanya pada tahun 2018.

Kapal ini dilengkapi dengan layar tradisional Indonesia yang menggunakan bahan-bahan seperti kayu ulin dan jati. (Sumber: Bisnis.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Heroik! Empat Santri Magetan Tenggelam di Pantai Parangtritis Berhasil Diselamatkan

Bantul
| Minggu, 25 Februari 2024, 19:07 WIB

Advertisement

alt

Melihat Kemeriahan Cap Go Meh di Kelenteng Sijuk

Wisata
| Sabtu, 24 Februari 2024, 22:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement