Advertisement
Buntut Pidato Erdogan Soal Penjahat Perang, Hubungan Turki Israel Menegang
Api dan asap membubung selama serangan udara Israel di tengah maraknya kekerasan Israel-Palestina, di Jalur Gaza selatan, 11 Mei 2021. - REUTERS / Ibraheem Abu Mustafa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Hubungan Turki dengan Israel usai pidato Presiden Recep Tayyip Erdogan yang menyebut Israel sebagai penjahat perang dan menyatakan Hamas bukan sebagai teroris.
Israel, melalui Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen, memerintahkan kembalinya seluruh staf diplomatik dari Turki ke negaranya, beberapa saat setelah Erdogan menyelesaikan pidatonya, pada Sabtu (28/10/2023).
Advertisement
"Saya telah memerintahkan kembalinya perwakilan diplomatik di sana untuk melakukan evaluasi ulang terhadap hubungan antara Israel dan Turki," katanya, dilansir Channel News Asia, Minggu (29/10/2023).
BACA JUGA: Presiden Turki Sebut Serangan Israel di Gaza Tindakan Pembantaian
Keputusan tersebut memberikan pukulan telak terhadap upaya baru kedua pihak untuk memulihkan hubungan politik dan ekonomi setelah satu dekade membekukan hubungan.
Unjuk rasa besar-besaran di Istanbul yang dipimpin Erdogan yang diperkirakan dihadiri 1,5 juta orang terjadi pada Sabtu (28/10/2023). “Israel, Anda adalah penjajah,” kata Erdogan, saat berpidato, memimpin unjuk rasa, di depan bendera Turki dan Palestina yang mengibarkan lautan pendukungnya.
Dia menuduh pemerintah Israel berperilaku seperti penjahat perang yang berusaha membasmi warga Palestina. "Tentu saja, setiap negara mempunyai hak untuk membela diri. Tapi di manakah keadilan dalam kasus ini? Tidak ada keadilan yang ada hanyalah pembantaian keji yang terjadi di Gaza," ucapnya.
Israel dan Turki negara berpenduduk mayoritas Muslim yang membentuk benteng pertahanan NATO di Timur Tengah baru saja setuju untuk mengangkat kembali duta besarnya pada tahun lalu.
Kedua negara itu juga memulai kembali diskusi mengenai proyek pipa gas alam yang didukung AS yang dapat menjadi dasar bagi kerja sama yang lebih erat dan bertahan lama di tahun mendatang.
BACA JUGA: Tegas! Indonesia Desak PBB Bentuk Komisi Independen Terkait Serangan Israel ke Palestina
Namun, hubungan Turki dan Israel retak ketika Erdogan meningkatkan kecepatan dan serangannya terhadap operasi militer balasan Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza.
Seperti diketahui, militan Hamas melancarkan serangan mendadak pada 7 Oktober yang menewaskan 1.400 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera lebih dari 220 orang.
Kementerian Kesehatan yang dikuasai Hamas di Gaza mengatakan serangan Israel telah menewaskan lebih dari 8.000 orang sebagian besar warga sipil dan lebih dari 3.500 di antaranya adalah anak-anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pendatang ke Jakarta Didominasi Usia Produktif Minim Keterampilan
- Perbedaan Jumat Agung dan Paskah, Jangan Sampai Keliru
- Ribuan Dapur MBG Bermasalah Program Gizi Disorot
- Kasus Amsal Berbuntut Panjang, DPR Desak Evaluasi Total Kejari Karo
- Anak Indonesia Nyaris Semua Online, PP Tunas Jadi Benteng Terakhir
Advertisement
Suara Berisik dari Gudang Bongkar Aksi Pencurian di Godean Sleman
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Ancaman Trump Picu Ketegangan Baru, China Minta Perang Dihentikan
- Kronologi Brutal Pengeroyokan di Sleman, Berawal dari Geber Motor
- Kasus Amsal Sitepu: DPR RI Minta Kejagung Sanksi Tegas Kajari Karo
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 3 April 2026
- Cicilan Koperasi Desa Kini Ditanggung Negara lewat Dana Daerah
- Ribuan Dapur MBG Bermasalah Program Gizi Disorot
- Tabrakan Maut di Sedayu Bantul, 3 Remaja Tewas
Advertisement
Advertisement








