Advertisement
Sejarah Pasar Tanah Abang, Berusia Nyaris 3 Abad Kini Mulai Meredup
Tumpukan stok dagangan para penjual di Pasar Tanah Abang, Senin (11/9/2023) - Bisnis.com/Crysania Suhartanto
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Pedagang pasar Tanah Abang akhir-akhir mengeluhkan sepinya pembeli. Mereka menyebut kehadiran live shopping di berbagai media sosial seperti TikTok Shop telah merenggut pembeli sehingga kini pasar grosir tekstil itu menjadi sepi dari pembeli.
Pasar Tanah Abang sudah puluhan tahun dikenal sebagai pasar yang selalu ramai. Kebijakan Pemda DKI pernah diberlakukan di kawasan ini untuk mengurai kemacetan akibat membludaknya pembeli tersebut. Selain itu dikena; sebagai pasar grosir tertua di tanah air.
Advertisement
Berdasarkan wikipedia, Pasar Tanah Abang oleh anggota Dewan Hindia Belanda yang kaya raya bernama Yustinus Vinck pada 30 Agustus 1735. Ia mendirikan pasar tersebut atas izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patras untuk berjualan tekstil serta barang kelontong dan hanya buka setiap hari Sabtu. Oleh karena itu, pasar ini dahulunya disebut dengan istilah Pasar Sabtu. Pasar ini mampu menyaingi Pasar Senen yang lebih dahulu didirikan oleh Weltervreden.
BACA JUGA : TikTok Shop Booming, Kementerian BUMN Serukan Ini untuk UMKM Lokal
Pasar Tanah Abang sempah hancur saat terjadi peristiwa Geger Pecinan medio 1740. Kemudian dibangun kembali pada 1881 dan buka tidak hanya Sabtu melainkan juga Rabu, sehingga dua kali dalam sepekan.
Pada tahun 1740 terjadi Peristiwa Geger Pecinan, yaitu pembantaian orang-orang Tionghoa, perusakan harta benda, termasuk Pasar Tanah Abang diporakporandakan dan dibakar. Pada tahun 1881, Pasar Tanah Abang kembali dibangun dan yang tadinya dibuka pada hari Sabtu, ditambah hari Rabu, sehingga Pasar Tanah Abang dibuka dua kali seminggu.
Bangunan Pasar pada mulanya sangat sederhana,terdiri dari dinding bambu dan papan serta atap rumbia dari 229 papan dan 139 petak bambu. Pasar Tanah Abang terus mengalami perbaikan hingga akhir abad ke-19 dan bagian lantainya mulai dikeraskan dengan pondasi adukan.
Pada tahun 1926 Pemerintah Batavia membongkar Pasar Tanah Abang dan diganti bangunan permanen berupa tiga los panjang dari tembok dan papan serta beratap genteng, dengan kantor pasarnya berada di atas bangunan pasar. Pada zaman pendudukan Jepang, pasar ini hampir tidak berfungsi, dan menjadi tempat para gelandangan.
BACA JUGA : Pedagang Minta TikTok Shop Ditutup, Menteri Teten Pilih Angkat Tangan
Namun Pasar Tanah Abang semakin berkembang setelah dibangunnya Stasiun Tanah Abang. Di sekitarnya dibangun sejumlah tempat seperti Masjid Al Makmur dan Klenteng Hok Tek Tjen Sien yang keduanya seusia dengan Pasar Tanah Abang. Pada tahun 1973, pasar ini diremajakan, diganti dengan empat bangunan berlantai empat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Survei: 68 Persen Warga AS Khawatir Konflik dengan Iran
- Alumni UNS Kumpul Bangun Jejaring dan Kolaborasi Strategis
- Perundingan Iran-AS Buntu, Pakistan Siap Lanjutkan Mediasi
- Hujan Lebat dan Petir Mengintai Sejumlah Wilayah Hari Ini
- Bupati Tulungagung Pakai Surat Pernyataan Mundur untuk Peras Pejabat
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Salah Urutan Bisa Bikin Cedera, Ini Cara Latihan yang Aman
- Pemerintah Buka Peluang untuk Subsidi Motor Listrik Lagi
- Bukan Rudal, Cahaya di Langit Malang Diduga Sampah Antariksa
- Hujan Lebat dan Petir Mengintai Sejumlah Wilayah Hari Ini
- 3 Kebiasaan Pagi yang Bantu Turunkan Tekanan Darah
- DPRD Jogja Gelar Penghormatan Terakhir untuk Adrian Subagyo
- Justin Bieber Dihujat di Coachella 2026, Ini Penyebabnya
Advertisement
Advertisement









