Advertisement

Mengenang Profesor Azyumardi Azra dan Karya Fenomenalnya

Widya Islamiati
Selasa, 20 September 2022 - 19:47 WIB
Bhekti Suryani
Mengenang Profesor Azyumardi Azra dan Karya Fenomenalnya Guru Besar Sejarah Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra./nu - or.id

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Berpulangnya cendekiawan muslim Indonesia, Azyumardi Azra membuat Indonesia berduka. Sederet tokoh publik turut berduka cita atas meninggalnya orang yang menyandang gelar kehormatan Commander of the Order of British Empire, dari Kerajaan Inggris itu.

Semasa hidupnya, dia dan karyanya terus menjadi rujukan keilmuan Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, yang diterbitkan dua puluh tahun yang lalu.

Konsep Islam Nusantara ini kembali menjadi perbincangan publik dan menuai banyak kritik sejak dijadikan tema Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang Jawa Timur oleh Kiai Said Aqil Siradj.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Meskipun menuai kritik dan sempat mendapat penolakan dari tanah kelahirannya, Sumatra Barat, tepatnya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat pada tahun 2018 lalu. Profesor Azyumardi Azra mengaku telah menulis buku ini jauh sebelum konsep Islam Nusantara ini dicetuskan NU. Hal ini diungkapkannya dalam Simposium Nasional Islam Nusantara pada tahun 2020 lalu yang diunggah oleh TV Nahdlatul Ulama di laman YouTube resmi mereka.

Islam Nusantara menurut Profesor Azyumardi Azra adalah "Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia."

Dalam simposium tersebut, lulusan Columbia University ini juga menyebutkan bahwa bukunya pernah didiskusikan di Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat saat sedang ramai-ramainya pembahasan mengenai Islam Nusantara yang diangkat oleh NU sebagai tema muktamar tahun 2015 lalu.

BACA JUGA: Konflik Penolakan LDII di Sleman Belum Ada Titik Temu

Menurutnya, Islam Indonesia ini adalah masa depan Islam terbaik yang bisa diterapkan dimana-mana, baik di luar negeri maupun di Indonesia, dan Islam Indonesia adalah Islam wasathiyah. "Dimana-mana, baik di Indonesia maupun luar negeri bahwa sesungguhnya masa depan Islam itu adalah Islam Indonesia, Islam Indonesia itu adalah islam wasathiyah," paparnya dalam simposium tersebut.

Dia juga mengungkapkan, konsep Islam wasathiyah ini diidam-idamkan oleh berbagai pihak dari berbagai negara, seperti Mesir dan Qatar. Hal ini karena Islam Wasathiyah dianggap bisa membawa kedamaian dalam suatu negara karena merupakan Islam yang moderat dan toleran.

Advertisement

Namun, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut, beberapa negara seperti Mesir masih kesulitan mengembangkan konsep ini sebab keadaan agama dan budaya di Mesir tidak seperti di Indonesia yang kompatibel.

"Ummatan wasathan sudah ada di Indonesia, kita patut berbahagia, bagian terbesar dari ummatan wasathan itu adalah Islam Nusantara." Katanya.

Ketua Dewan Pers ini juga menjelaskan bahwa di Indonesia tidak pernah ada peperangan suku meskipun suku di Indonesia mencapai angka ratusan. Bahkan negara adidaya Amerika Serikat menyebut Indonesia sebagai keajaiban.

Advertisement

Hal ini berkaitan dengan hampir tidak pernah ada perang saudara komunal agama yang luas dan berkepanjangan di Indonesia. "Dulu ada tahun 1999 di Ambon kemudian di Poso, tapi skalanya relatif kecil dan juga relatif pendek, dua tahun tiga tahun," ungkapnya.

Menurutnya, tradisi damai yang ada di Indonesia ini menjadi salah satu kekayaan Islam Indonesia.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

BPJS Kesehatan Pastikan Layanan Rumah Sakit di Bantul Berkualitas

Bantul
| Rabu, 28 September 2022, 10:17 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement