Advertisement

G20 Kebudayaan: Tokoh Adat & Penghayat Kepercayaan Diskusikan Tradisi Ritual

Sunartono
Rabu, 14 September 2022 - 07:17 WIB
Sirojul Khafid
G20 Kebudayaan: Tokoh Adat & Penghayat Kepercayaan Diskusikan Tradisi Ritual Tokoh adat dan penghayat kepercayaan berfoto bersama di sela-sela mengunjung wilayah yang kental dengan adat tradisi di Magelang, Selasa (13/9/2022). - Ist.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJASebanyak 83 tokoh adat dan penghayat kepercayaan mengunjungi sejumlah tempat yang masyarakatnya kental dengan tradisi spiritual, salah satunya di Dusun Kranggan Ringin Putih, Desa Wringin Putih, Borobudur, Magelang. Mereka saling mendiskusikan tradisi ritual masing-masing kepercayaan. Pertemuan para penghayat kepercayaan ini merupakan bagian dari rangkaian G20 Kebudayaan.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kemendikbud Ristek, Sjamsul Hadi, menjelaskan Desa Wringinputih memiliki budaya spiritual cukup kuat. Sehingga menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi oleh para tokoh adat dan penghayat kepercayaan. Masyarakat adat dan penghayat kepercayaan diharakan bisa saling belajar bersama terkait hal-hal yang disaksikan selama kunjungan.

“Masyarakatnya menyatu dengan alam, rata-rata bahan makanan dimanfaatkan langsung dari tanaman. Menariknya mereka bisa meminimalisasi keberadaan plastik, ini melestarikan kearifan lokal. Mereka bisa saling belajar atau mendiskusikan terkait tradisi ritual masing-masing," kata Sjamsul Hadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/9/2022).

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

BACA JUGA: Sultan Tegaskan Karyawan Mal Malioboro dan Hotel Ibis Tidak Akan Dipecat

Ia menambahkan masyarakat adat dan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengunjungi Pasar Wigati di desa tersebut. Pasar Wigati merupakan pasar budaya rakyat yang dibuka pada waktu tertentu, lokasinya di tengah dan di bawah rimbunnya rumpun bambu. Di tempat ini para tamu yang merupakan wakil seluruh Indonesia dijamu makanan tradisional masyarakat hingga pentas jathilan sembari berdiskusi tentang ritual tradisi di desa tersebut.

“Mereka juga diberikan berbagai pelatihan dan pengenalan pengetahuan, seperti membuat mainan anak dari barang bekas dan bambu, sejumlah jamu tradisional Jawa, serta berbagai sesaji upacara ritual tradisi,” katanya.

Penanggungjawab Kegiatan, Julianus Limbeng, berharap agar kunjungan di lokasi tradisi spiritual dapat menginspirasi tokoh adat dan penghayat kepercayaan untuk diambil dari sisi positifnya. Sekaligus memberikan pengetahuan secara luas. Menurutnya kunjungan tersebut mendapatkan respons positif dari para peserta.

“Harapannya bisa memberi cakrawala, pengetahuan dan pengalaman baru saat pulang ke kampung masing-masing, tentang tradisi ritual ini," ucapnya.

BACA JUGA: KWT dan Petani Milenial di Sleman Didorong Kembangkan Urban Farming

Advertisement

Ketua Adat Kasepuhan Banten, Abah E Suhendri Wijaya, yang turut hadir berharap silaturahmi dengan mengumpulkan komunitas adat di Borobudur Magelang dapat terus dilakukan demi kelestarian adat tradisi. Salah satunya adat tradisi budaya mempertahankan ketahanan pangan.

“Tanam padi setahun sekali di ladang dan sawah. Tiap tahun ada acara adat. Ritual adat yang disaksikan di beberapa lokasi di Borobudur Magelang memunculkan kesimpulan, budaya Indonesia sangat beragam," ucapnya.

Advertisement

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

134 Orang Meninggal Dunia di Bantul Sepanjang Tahun Ini karena Kecelakaan Lalu Lintas

Bantul
| Rabu, 05 Oktober 2022, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement