Advertisement

Menengok Sejarah Solo Jadi Sarangnya Kuliner Daging Anjing hingga Budaya Mendem

Newswire
Minggu, 04 September 2022 - 09:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Menengok Sejarah Solo Jadi Sarangnya Kuliner Daging Anjing hingga Budaya Mendem Ilustrasi spanduk kuliner sate jamu di Soloraya. - Youtube via Solopos

Advertisement

Harianjogja.com, SOLO-Mendengar kata "Kota Solo", ada banyak hal menarik dan unik yang bisa dibicarakan. Beberapa di antaraniya soal kuliner daging anjing dan budaya mendem warganya.

Di Kota Solo, mencari warung menu olahan daging anjing tidaklah sulit. Lokasinya menyebar di berbagai wilayah dan secara terang-terangan pemilik warung berani menuliskan plakat di depan warungnya. 

Tidak susah untuk menemukan warung yang oleh sebagian warga disebut dengan istilah “warung sate jamu” itu. Bahkan beberapa penggemar kuliner daging anjing punya warung favorit masing-masing.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Jogja, Heri Priyatmoko, menyebut ada puluhan warung sate jamu di Solo. Warung-warung itu ada yang buka pagi, sore, dan malam hari, dengan aneka hasil olahan daging anjing. Seperti satai, tongseng, rica-rica, grabyasan atau goreng, dan yang dikombinasikan dengan menu nasi goreng.

Baca juga: Merasa Diprank Lagi, Begini Komentar Warganet soal Kenaikan Harga BBM

Penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo itu menyebut tak sedikit yang menyukai rica-rica, walau berbahan tulang belulang dan sedikit daging yang menempel. Sajian bumbu pedas dan hangat disukai konsumen.

Sementara untuk menu grabyasan dikemas dalam bungkusan kecil-kecil yang berisi beberapa potong daging goreng berukuran mungil. Hingga akhir 1980 an masih ditemui pedagang keliling di kampung menawarkan grabyasan.

Menurut Heri, pada tahun 1940-an ada sosok penjual olahan daging anjing yang sangat dikenal masyarakat. Sosok itu dikenal dengan nama Mitro Jologug yang berarti menjala anjing. Sosok ini berjualan rica-rica anjing. Usahanya berlanjut turun temurun oleh anak, cucu, hingga mantan pembantu di warungnya.

Merujuk sejarawan Anthony Reid (2011), anjing di Asia Tenggara menjadi santapan warga karena dimaknai binatang tidak bertuan.

Advertisement

Ihwal bertahan lamanya kuliner daging anjing, menurut Heri, tidak lepas dari masih adanya konsumen yang mencarinya. “Dan regenerasi berjalan laiknya bakul sate jamu menurunkan seni olah-olah ke anak dan cucunya,” ujar dia, Sabtu (3/9/2022).

Eksis Karena Kaum Abangan

Kuliner daging anjing terus bertahan hingga saat ini berkat masih eksisnya kaum abangan. Selain itu juga karena faktor suburnya budaya mabuk-mabukan alias mendem warga yang biasa dipadukan dengan trambul atau juga santapan ringan.

Advertisement

Trambul ini biasanya berupa olahan daging atau tulang anjing. Ihwal tradisi mabuk yang mewabah di Solo disebutkan jurnalis Bromartani pada 25 Agustus 1881. Di tulisan itu menyebutkan Solo adalah lahan basah bisnis arak.

Tiga dekade berikutnya, wartawan Darmo Kondo melaporkan temuannya tentang arak gelap. Diceritakan, polisi Jokowesti menangkap dua wanita membawa arak gelap di Coyudan. Mereka lalu digelandang polisi.

“Budaya omben-omben atau mabuk minuman keras merebak di Solo berpuluh-puluh tahun. Pendukungnya tidak sedikit. Sehinga melahirkan terminologi lokal yang tak ditemukan di daerah lain, ndem-ndeman,” kata dia. Istilah itu ternyata tercatat di Bromartani edisi 28 Juni 1883.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Kantor Kemenag Kulonprogo Kukuhkan 11 Agen Perubahan 2022

Kulonprogo
| Senin, 26 September 2022, 23:17 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement