Advertisement

BBM dan LPG Serentak Naik, Inflasi Berpotensi Menggila Tahun Ini

Maria Elena
Senin, 11 Juli 2022 - 22:57 WIB
Bhekti Suryani
BBM dan LPG Serentak Naik, Inflasi Berpotensi Menggila Tahun Ini Pedagang melayani pembeli di Pasar Karbela, Jakarta, Senin (9/5/2022). - Antara Foto/Dhemas Reviyanto

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Tingkat inflasi domestik berpotensi menembus level 5 persen, sejalan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan bahwa dampak dari kenaikan harga pada komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) tersebut cukup berisiko pada tingkat inflasi.

“Proyeksi inflasi bisa menyentuh 5 hingga 5,5 persen year on year tahun ini. Semakin tinggi disparitas harga barang subsidi dan nonsubsidi, semakin tinggi migrasinya,” katanya kepada Bisnis, Senin (11/7/2022).

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Bhima menilai, kenaikan harga yang berimbas pada inflasi akan mempengaruhi konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah yang akan menghabiskan uang lebih banyak untuk biaya kebutuhan hidup.

“Daya beli kelas menengah akan turun dan berdampak terhadap penjualan berbagai produk sekunder dan tersier. Siap-siap penjualan rumah, kendaraan bermotor, dan barang elektronik akan turun,” jelasnya.

BACA JUGA: Kejahatan Child Grooming di Bantul Terbongkar, Polda DIY Temukan Fakta Mencengangkan!

Sementara itu, masyarakat kelas atas dinilai cenderung lakukan saving atau menahan diri untuk belanja dikarenakan sinyal inflasi akan tinggi tahun ini.

Adapun, pemerintah juga akan membatasi pembelian BBM dan LPG bersubsidi agar bantuan yang diberikan pemerintah tepat sasaran.

Namun demikian, Bhima menilai kebijakan pembatasan tersebut berisiko memicu masalah, salah satunya disebabkan oleh faktor pendataan.

Advertisement

Menurutnya, masalah pendataan harus diperbaiki, rumah tangga yang masuk golongan subsidi dan non-subsidi harus dipetakan.

“Masalahnya pembatasan yang dilakukan sedikit terlambat karena penggunaan MyPertamina misalnya justru menyulitkan orang miskin yang berhak membeli,” katanya.

Bhima menambahkan, pemerintah perlu mendorong pembangunan jaringan gas untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor yang nilainya mencapai Rp80 triliun.

Advertisement

Windfall dari pendapatan pajak dan PNBP komoditas ekspor, sebaiknya sebagian disisihkan untuk bangun jaringan pipa jargas. Itu solusi tapi selama ini progress lambat dan kurang jadi prioritas,” tambah Bhima.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Indonesia pada Juni 2022 telah mencapai 4,35 persen yoy. 

Pada periode yang sama, inflasi bulanan mencapai 0,61 persen (month-to-month/mtm) dan inflasi tahun kalender 2022 sebesar 3,19 persen.

Secara tahunan, makanan minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,47 persen dan inflasinya mencapai 1,77 persen.

Advertisement

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Rekrutmen P3K di Gunungkidul Menunggu Instruksi Resmi

Gunungkidul
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:37 WIB

Advertisement

alt

Satu-satunya di Kabupaten Magelang, Wisata Arung Jeram Kali Elo Terus Dikembangkan

Wisata
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement