Advertisement

Kesiapan Perpusnas dalam Menyongsong G20

Mariana Ginting (Pustakawan Utama Perpusnas)
Sabtu, 23 April 2022 - 05:37 WIB
Budi Cahyana
Kesiapan Perpusnas dalam Menyongsong G20 Mariana Ginting, Pustakawan Utama Perpusnas. - Istimewa

Advertisement

Indonesia saat ini merupakan negara yang dipercaya menjadi tuan rumah pada Group of Twenty (G20). Kegiatan G20 mengangkat tema Recover together, recover stronger. Tema ini menggambarkan bagaimana Indonesia mengajak masyarakat dunia berkoloborasi dan saling membantu pulih dan bangkit dari pandemi Covid-19.

Pada perhelatan presidensi G20, juga membuktikan Indonesia mampu menjadi model persepsi yang baik atas resiliensi ekonomi terhadap krisis. Hal ini juga merupakan bentuk pengakuan atas status Indonesia sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang mampu bertahan di tengah hantaman pandemi.

Advertisement

Kita memang pernah jatuh, babak belur karena pandemi. Kita pun pernah bersedih di tengah karena ada sahabat yang meninggalkan kita karena pandemi. Tetapi jika kita jatuh sekali kita akan bangkit dua kali, jika kita jatuh dua kali kita akan bangkit empat kali. Tidak peduli seberapa sering kita jatuh, karena bangsa yang kuat akan terus bangkit hingga kita mencapai cita-cita luhur bangsa.

Memahami tantangan dan perlunya upaya kolektif dalam mengatasi krisis, Indonesia akan fokus pada tiga pilar utama untuk Kepresidenan G20 tahun 2022 yaitu: mempromosikan produktivitas; meningkatkan ketahanan dan stabilitas, serta memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.  

Presidensi Indonesia dalam G20 berdampak positif dalam pemulihan aktivitas perekonomian Indonesia, dan pertemuan-pertemuan G20 di Indonesia juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pariwisata dan produk unggulan Indonesia kepada dunia internasional, sehingga diharapkan dapat turut menggerakkan ekonomi Indonesia.

Kiprah perpustakaan ditunggu dalam penyediaan informasi dan membangun jaringan. Transformasi Perpustakaan untuk Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional merupakan tagline Perpustakaan Nasional Tahun 2022. Perpustakaan Nasional dapat memicu pergerakan ekosistem digital nasional yang akan menjadi pintu gerbang terhadap produk-produk digital baik yang diciptakan di Indonesia maupun di luar negeri.

Oleh sebab itu, tugas pustakawan mengumpulkan informasi yang berserakan di masyarakat, untuk dikemas  ulang dalam bentuk informasi kemudian didesiminasikan dan sehingga dapat memudahkan para pemustaka dalam menggunakannya. Perpustakaan harus berkoloborasi dengan lembaga terkait.

Menurut Syarif Bando (Kaperpusnas RI) ada enam target dalam transformasi digital yakni konten, olah, layanan, preservasi, dukungan dan akses. Tahun 2022 perpustakaan Nasional menargetkan minimal satu juta conten creator untuk tampil di channel Youtube. Perpustakaan Nasional akan menjadikan presidensi G20 sebagai motor pengembangan ekosistem yang mendorong kolaborasi dan inovasi. Ini menjadi fokus kontribusi kita dalam pembentukan ekosistem dan inovasi berbasis pengetahuan. Oleh sebab itu setiap ASN dapat meningkatkan kualitas dan kompetensinya setiap saat dengan belajar dan teruslah belajar seumur hidup (long life education).

Selain belajar, pola pikir (mindset) yang harus berubah menjadi tuntutan baru bagi kita, yakni zaman digital yang serba cepat, mobilitas tinggi. Kita hidup dalam  era kecepatan eksponensial, di mana ASN dituntut untuk respons cepat, real time (seketika), follow-up (langsung ditindaklanjuti), bisa mengendus informasi yang benar, mampu menggunakan teknologi dan connected (terhubung) bukan terisolasi. Bayangkan jika tahun ini kita mampu berlari lebih cepat dengan ekosistem digital yang kita bentuk dan jaringan yang ada tentunya ekosistem digital akan membuat kita lebih kuat bertahan atas pandemi-pandemi lain yang tidak kita harapkan kedatangannya.

Advertisement

Perpustakaan Nasional sebagai poros pergerakan literasi memiliki nakhoda dan ke arah mana perkembangan literasi ditujukan. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, paradigma perpustakaan saat ini berfokus pada transfer knowledge 70%, management knowledge 20% dan management collections 10%.

Hal ini dapat dimaknai setiap sumber daya di perpustakaan ditransformasikan kepada pemustaka/masyarakat untuk menghasilkan suatu karya atau jasa yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perpustakaan dan pustakawan dituntut untuk selalu berinovasi, berkreasi, berkolaborasi serta bersinergi, untuk menghasilkan inovasi dan kreasi dibutuhkan super team bukan superman.#

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Mau ke Solo dari Stasiun Maguwo? Cek Jadwal KRL Hari Ini

Jogja
| Rabu, 25 Mei 2022, 10:27 WIB

Advertisement

alt

Arti 4 Prasasti yang Tertempel di Tugu Jogja

Wisata
| Senin, 23 Mei 2022, 14:27 WIB

Advertisement

Advertisement