Advertisement
Ada Kekhawatiran RUU Sisdiknas D seperti UU Digarap Kilat KN
Sejumlah siswa mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas pada hari pertama kembali masuk sekolah di SDN 3 Lhokseumawe, Aceh, Kamis (5/8/2021). Pemkot Lhokseumawe kembali melaksanakan PTM terbatas untuk seluruh jenjang pendidikan tahun ajaran baru 2021/2022 dengan menerapkan protokol kesehatan ketat setelah kriteria di daerah tersebut turun dari level 3 ke level 2 pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - Rahmad
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sudah mulai melakukan uji publik Rancangan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).
Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengaku memiliki kekhawatiran jika RUU ini jadi disahkan.
Advertisement
“Saya punya kekhawatiran RUU akan segera disahkan, cepat kilat kayak UU IKN atau UU Ciptaker,” ujar Satriwan saat dihubungi Bisnis, Jumat (11/2/2022).
Satriwan mengaku pihaknya memiliki catatan terkait RUU Sisdiknas yang baru. Menurut dia, ada beberapa pasal yang dinilainya bermasalah.
“Ada kekhawatiran pemerintah akan memungut biaya pendidikan dari masyarakat/orang tua, biaya pendidikan akan mahal, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi kewajiban pemerintah membiayainya, melainkan dibebankan kepada masyarakat (Pasal 80-81),” ujar Satriwan yang turut diundang pada uji publik tersebut.
BACA JUGA: Jumlah Pasien Strok Menurun selama Pandemi
Selain itu, ada kekhwatiran Kemendikbudristek juga akan menghidupkan kembali Ujian Nasional (UN), yang jelas akan kembali membebani siswa dan mengkotak-kotakkan kemampuan siswa.
“Sebab ada klausul evaluasi terhadap pelajar oleh pemerintah dan lembaga mandiri (Pasal 104-105). Makanya, mereka tidak publikasikan secara luas pbahasannya,” ujarnya.
“Kalau diprotes mereka akan bilang enteng: Kemdikbud sudah undang uji publik kok organisasi-organisasi itu,” tutur dia.
Padahal, uji publik hanya 2 jam untuk belasan organisasi.
“Ini kan gak niat dialog, mendengarkan aspirasi semua pemangku kepentingan,” ucapnya.
Potensi Kerdilkan SNP
Satriwan menuturkan, bahwa ada potensi mengerdilkan Standar Nasional Pendidikan (SNP), sebab semula ada 8 SNP dalam RUU hanya 3 SNP.
Dia berharap pembahasan dan uji publik RUU Sisdiknas itidak tergesa-gesa. Juga, bukan uji publik yang terkesan basa-basi demi memenuhi formalitas administratif belaka.
“Pembahasannya mesti transparan dan membuka ruang dialog partisipatif dari semua pemangku kepentingan Pendidikan,” katanya.
“Jangan sampai terkesan RUU ini sama seperti UU IKN atau UU Ciptakerja, yang minim ruang pasrtisipasi publik. Apalagi RUU ini bersifat omnibus law, akan menggantikan 3 UU sekaligus: UU Guru dan Dosen, UU Sisdiknas, dan UU Pendidikan Tinggi.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Jenazah Pilot ATR 42-500 Andy Dahananto Disambut Haru di Tigaraksa
- Tetangga Kenang Farhan, Copilot ATR yang Tewas di Bulusaraung
- Bulog Bakal Pakai Beras Premium untuk MBG dan Batalion TNI
- Tidak Boleh Tokoh Fiksi, Pekerjaan di KTP Diatur Ketat, Ini Daftarnya
- Banjir Kiriman Ciliwung Rendam Kebon Pala Jakarta
Advertisement
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Kemenag Tegaskan 17 Oktober 2026 Jadi Batas Wajib Halal Produk Strateg
- Pelatih PSS: Hasil Imbang Lawan Persipura Jadi Poin Penting
- Pelaku Industri Perikanan DIY Dilibatkan dalam Program MBG
- Cek Jam Berangkat KA Prameks Jogja-Kutoarjo Hari Ini
- KA Bandara YIA Reguler dan Xpress, Ini Jadwal Terbarunya
- Hasil Bundesliga Pekan ke-19: Bayern Kalah, Leipzig Bangkit Tandang
- Prakiraan Cuaca di Jogja 25 Januari 2026, Hujan dan Gelombang Sedang
Advertisement
Advertisement




