Epidemiolog: Indonesia Mulai Masuk Fase Endemi pada 2022

Suasana gedung bertingkat dan perumahan padat penduduk di Jakarta, Rabu (31/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
01 Januari 2022 07:07 WIB Akbar Evandio News Share :

Harianjogn.com, JAKARTA – Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan Indonesia akan memulai untuk masuk ke dalam fase endemi Covid-19 pada 2022.

“Pada 2022 diharapkan Indonesia sudah masuk ke fase endemi dengan tingkat penularan rendah dan kemampuan Negara dalam menekan tingkat kematian, tetapi tetap dengan protokol kesehatan prokes yang masih sangat dianjurkan untuk dijalankan,” ujarnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Kamis (30/12/2021).

Lebih lanjut, dia mengatakan pada akhir 2021 meskipun Covid-19 masih ada di sekitar masyarakat, tetapi tingkat penyebaran sudah tidak signifikan membebani layanan kesehatan sehingga sudah dapat untuk dikatakan masuk ke tahap endemic.

"Kita sudah masuk ke fase itu [endemi], tetapi kita belum percaya diri saja," katanya.

Dia menilai, agar situasi kasus Covid-19 di dalam negeri tetap terkendali secara keberlanjutan, maka vaksinasi harus terus digencarkan.

"Kita bisa menjaga situasi ini lebih sustain dengan melakukan vaksinasi, kalau bisa 100 persen sehingga masyarakat Indonesia memiliki imunitas yang bisa mengenali dan mendeteksi virus. Dengan demikian kita bisa lebih siap menghadapinya," tuturnya.

Pandu mengatakan bahwa fase endemi adalah fase di mana kasus bisa ditekan dan angka yang masuk ke rumah sakit sangat rendah, dengan tingkat kematian nol.

Hal tersebut dinilai dapat terwujud dengan adanya kekebalan tubuh. Dengan adanya kekebalan, tingkat penyakit yang ditimbulkan dari infeksi Covid-19 tidak akan parah.

"Salah satu faktor yang bisa menekan itu adalah kekebalan tubuh. Kalo semua penduduk mempunyai kekebalan, maka orang yang terinfeksi pun tidak akan bergejala atau tidak akan masuk rumah sakit, atau tidak akan menjadi berat apalagi meninggal," katanya.

Selain itu, sebagian orang Indonesia sudah terinfeksi virus Covid-19 yang juga menumbuhkan kekebalan tubuh.

"Kedua, orang Indonesia sebagian sudah mendapat vaksinasi alam, jadi mereka sudah terinfeksi, kalo orang yang sudah terinfeksi dan menjadi penyintas maka mereka akan mempunyai kekebalan," ujarnya.

Dia melanjutkan, ketika orang yang terinfeksi mendapatkan suntikan vaksinasi, kekebalan yang tumbuh akan menjadi berlipat ganda dan menghasilkan hybrid immunity.

"Orang yang penyintas divaksinasi lagi, dua kali, itu disebut hybrid immunity. Jadi kekebalan hasil dari vaksinasi alamiah dan injeksi vaksin yang dibuat oleh ilmu pengetahuan dan itu kadar antibodinya sangat tinggi," tuturnya.

Tidak hanya itu, Pandu menjelaskan penelitian pada antibodi yang dibentuk omicron menunjukkan bahwa antibodi tersebut bisa melawan varian Delta.

"Antibodinya diteliti itu bisa melawan delta. Itu yang kejadian di Afrika Selatan, terjadi peningkatan omicron langsung turun cepat, terus delta yang tadinya sangat berperan hilang. Mereka sebagian besar sudah divaksinasi, jadi konsepnya sama dengan konsep yang saya jelaskan, jadi terjadi imunitas hibrid," kata Pandu.

Sumber : JIBI/Bisnis.com