Gamelan Jadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, Ini Alasannya..

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyempatkan diri mengikuti latihan gamelan grup "Dadali Gamelan" di KBRI Moskow, di sela-sela rangkaian kunjungan kerjanya ke Rusia. - IstiArmanatha Nasir, Juru Bicara Menlu
16 Desember 2021 18:47 WIB Nancy Junita News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sidang  Unesco sesi ke-16 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paris, Perancis, yang digelar 15 Desember 2021 kemarin, memasukkan gamelan ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO.

Gamelan resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia dari Indonesia yang ke-12. Gamelan adalah alat musik tradisional yang sering ditemui di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Jawa, Bali, Madura, dan Lombok.

Istilah gamelan Jawa mengacu secara umum kepada gamelan di Jawa Tengah. Alat musik ini diduga sudah ada di Jawa sejak tahun 404 Masehi. Hal tersebut terlihat dari adanya penggambaran masa lalu di relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Gamelan tidak hanya dimainkan untuk pertunjukan seni, tetapi juga dalam berbagai  kegiatan tradisional dan ritual keagamaan. Unesco mencatat nilai filosofi gamelan sebagai salah satu sarana ekspresi budaya dan membangun koneksi antara manusia dengan semesta.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menjelaskan bahwa sejak tahun 2012, Kemendikbudristek membantu penyediaan gamelan ke berbagai sanggar.

Baca juga: AP I Ungkap Alasan YIA Belum Butuh Polsek Khusus Bandara

"Pemerintah daerah juga turut aktif mendukung upaya pelestarian gamelan melalui berbagai program seperti fasilitasi penyediaan gamelan, gamelan masuk sekolah, festival gamelan, kompetisi, pawai, pertunjukan dan pelatihan gamelan," jelas Hilmar dalam keterangan tertulis, Kamis (16/12/2021).

Institut dan sanggar seni juga turut aktif mengenalkan dan memberikan pelatihan gamelan kepada masyarakat.

"Unesco juga mengakui bahwa gamelan, yang dimainkan secara orkestra, mengajarkan nilai-nilai saling menghormati, mencintai, dan peduli satu sama lain," terang Dirjen Hilmar.

Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Prancis, Andorra, Monako sekaligus Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk Unesco, Mohamad Oemar menyampaikan bahwa gamelan telah lama dimanfaatkan sebagai aset diplomasi.

Dia berkomitmen untuk terus mempromosikan gamelan melalui berbagai aktivitas seperti pembelajaran gamelan untuk masyarakat asing dan pertukaran budaya.

Adapun, Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan kegembiraan dan rasa bangga atas capaian di bidang kebudayaan yang diperjuangkan sejak tahun 2019 tersebut.

"Ini adalah capaian kita sebagai bangsa Indonesia yang tumbuh dalam keragaman budaya," disampaikan Mendikbudristek di Jakarta, Kamis (16/12/2021).

Nadiem menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap upaya pelestarian gamelan yang dilakukan berbagai pihak sejak lama. "Terima kasih kepada para pelaku budaya tradisi, khususnya pegiat gamelan yang terus semangat melestarikan dan memajukan kebudayaan Nusantara," tuturnya.

Gamelan, kata Nadiem, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dan terus diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. "Capaian ini adalah pengingat kita untuk terus bergerak serentak mewujudkan Merdeka Berbudaya," ajaknya. 

Sebelumnya, Indonesia telah berhasil mencatatkan 11 Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO antara lain, Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Pendidikan dan Pelatihan Membatik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), Noken (2012), Tiga Genre Tari Bali (2015), Kapal Pinisi (2017), Tradisi Pencak Silat (2019), dan Pantun (2020).

 

Sumber : bisnis.com