Anggaran Kesehatan Meningkat, Berdampak Positif di Sektor Rumah Sakit 2022

Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (6/10/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
13 Desember 2021 03:27 WIB Rinaldi Mohammad Azka News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Emiten sektor rumah sakit diprediksi dapat mempertahankan kinerja ciamiknya hingga 2022. Adapun salah satu motor penggeraknya datang dari anggaran kesehatan pemerintah yang meningkat.

NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam riset tahunan untuk 2022 menyebutkan, Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan Rp255,3 triliun untuk belanja kesehatan, atau setara dengan 9,4 persen dari APBN 2022.

Alokasi yang direncanakan akan bersumber dari anggaran rutin sebesar Rp139,4 triliun dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp115,9 triliun. Sementara itu, alokasi layanan kesehatan 2022 turun 21,8 persen dari tahun penuh 2021; angka ini dibandingkan dengan anggaran biasa masih naik 11,3 persen; dengan harapan pandemi Covid-19 akan tetap terkendali.

"Porsi anggaran kesehatan akan tetap dialokasikan untuk penanganan Covid-19; dengan fokus utama pada vaksinasi program, tindakan pencegahan, dan insentif petugas kesehatan," tulis Riset Tahunan NH Korindo, dikutip Minggu (12/12/2021).

Di luar alokasi Covid-19, anggaran juga akan ditujukan untuk meningkatkan fasilitas kesehatan, menurunkan angka stunting, dan memperkuat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pada 2022, sektor kesehatan akan dihadapkan pada kemungkinan normalisasi pendapatan, karena pandemi diperkirakan akan bergeser menjadi endemik dan upaya berkelanjutan pemerintah untuk menurunkan biaya pengujian.

"Namun, meningkatkan kesadaran kesehatan diperkirakan akan meningkatkan permintaan suplemen dan produk kesehatan lainnya; yang berpotensi menguntungkan perusahaan farmasi," urainya.

Selain itu, NH Korindo Sekuritas juga memperkirakan kinerja emiten RS, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) akan melanjutkan pertumbuhan yang sudah baik pada 9 bulan 2021.

Per kuartal III/2021, pendapatan penjualan tercatat sebesar Rp3,4 triliun naik 47,1 persen dibandingkan dengan tahun lalu, membentuk 80 persen dari konsensus dan perkiraan tahun penuh NH Korindo.

Penerimaan Rawat Jalan dan Rawat Inap telah meningkat pesat, sehingga pendapatan rawat jalan dan rawat inap MIKA per pasien tumbuh masing-masing sebesar 29,2 persen dan 20,8 persen pada 9 bulan 2021.

Sementara itu, dengan pemerintah telah menurunkan pagu harga untuk layanan terkait Covid-19. NH Korindo percaya ini harus menormalkan margin keseluruhan untuk kuartal mendatang.

"Mengingat situasi saat ini, kami seperti strategi MIKA untuk mengalihkan fokus pada non-Covid19 dengan meningkatkan tempat tidur operasional dan mengubah 23 rumah sakit menjadi Rumah Sakit Zona Hijau, sementara 3 rumah sakit terus merawat pasien Covid-19," paparnya.

Selain itu, manajemen yakin untuk mengoperasikan dua rumah sakit (Cikarang dan Tangerang Selatan) sesuai jadwal di kuartal III/2022 dan kuartal IV/2022, masing-masing dengan kapasitas 200 tempat tidur.

Sesuai rencana manajemen, MIKA juga menargetkan membangun 1 rumah sakit di Tegal. MIKA juga telah bermitra dengan perusahaan Telehealth melalui aplikasi telemedicine yang disebut Altea Care. Aplikasi ini akan meningkatkan akses pasien ke dokter spesialis MIKA dan rekam medisnya. Selain itu, aplikasi ini juga dapat mengirimkan obat-obatan langsung ke rumah mereka.

"Kami percaya inisiatif ini diambil setelah melihat banyak orang enggan mengunjungi rumah sakit karena takut tertular Covid-19," imbuhnya.

Dengan demikian, NH Korindo merekomendasikan buy untuk MIKA dengan target price (TP) di level Rp2.750. Dengan kontribusi pendapatan pasien rawat inap 65,6 persen dan rawat jalan 34,4 persen.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia