Cegah Perpecahan dengan Pengamalan Nilai Pancasila

Diskusi Penerpaan Nilai Pancasila dalam Kehidupan. - Ist.
21 November 2021 23:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Berbagai bentuk potensi perpecahan bangsa harus diantisipasi dengan baik, salah satunya melalui pengamalan nilai pancasila. Melalui pancasila berbagai bentuk perbedaan bisa dipersatukan.

Anggota DPD RI Cholid Mahmud menjelaskan secara nasional, proses politik dan kepentingan politik sering membawa kepada perbedaaan yang tajam mengarah ke perpecahan antar komponen bangsa. Friksi tersebut sering menjadikan suasana sosial politik yang tegang. Apalagi di era saat ini ketegangan muncul yang biasanya dituangkan dalam media sosial melalui berbagai bentuk ujaran hingga diskusi formal.

“Di sisi lain, orientasi ekonomi kadang menimbulkan suasana kurang nyaman. Pemerintah lebih memihak kepada pemodal kuat dan pemodal asing untuk investasi strategis. Suasana dan orientasi sosial politik dan sosilogis ini jika dibiarkan akan mengarah kepada pembelahan sosial dan mengarah kepada perpecahan bangsa,” katanya diskusi Pancasila di Ngawen, Gunungkidul, Minggu (21/11/2021).

Dalam kondisi ini, menurutnya peran MPR sangat penting dan strategis untuk selalu mengingatkan agar kehidupan bernegara berbangsa dan bermasyarakat selalu dalam koridor nilai-nilai Pancasila. Pancasila dalam negara Kesatuan Republik indonesia memiliki empat kedudukan penting, sebagai dasar dan ideologi negara, pandangan hidup dan pemersatu bangsa.  Pancasila menjadi dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara bagi seluruh warga negara Indonesia.

“Pancasila sebagai ideologi negara, dapat dimaknai sebagai sistem kehidupan nasional yang meliputi aspek etika, moral, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan dalam rangka pencapaian cita-cita dan tujuan bangsa yang berlandaskan dasar negara. Dengan segala upaya dan usaha dengan berbagai sektor pemerintah dan masyarakat harus diupayakan,” katanya.

Ia menambahkan sebagai filsafat, Pancasila menjadi pondasi yang menyangga negara agar kokoh, sekaligus merekat segala perbedaan menjadi satu kesatuan. Sehingga perbedaan kesukuan bahasa dan wilayah dan faktor sosiologis lainnya merupakan keistimewaan bangsa Indonesia dan disatukan dalam filosofi ini.

“Etika moral sosial budaya ini sekarang teruji dengan interaksi yang semakin terbuka dengan kemajuan teknologi. Kemajuan ini diharapkan menguatkan nilai etika moral bukan menggerus nilai-nilai luhur ini,” katanya.