Kementan Tingkatkan SDM Pertanian di Era Pandemi Covid-19

Pembukaan Simposium Sayuran Asia Tenggara, Kamis (18/11/2021). - Ist.
18 November 2021 21:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pertemuan ilmiah melibatkan sejumlah negara bertajuk Simposium Sayuran Asia Tenggara (Symposium Southeast Asia Vegetable/SEAVEG) digelar di Jogja pada Kamis (18/11/2021) hingga Sabtu (20/11/2021). Kegiatan yang digelar secara daring dan luring ini secara khusus mengangkat potensi holtikultura sekaligus untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian di era pandemi Covid-19. 

Kegiatan ini digelar oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dan Polbangtan Kementerian Pertanian. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah Kepala Dinas Pertanian seluruh DIY termasuk Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto yang memiliki kepedulian terhadap isu pertanian.

BACA JUGA : Sleman Targetkan 1.000 Petani Milenial Tahun Ini 

Sekretaris BPPSDMP Kementan Siti Munifah menjelaskan kegiatan itu merupakan forum diseminasi hasil riset dan inovasi berskala internasional. Diikuti oleh para akedemisi, pengambil kebijakan, industri dan pelaku usaha pertanian termasuk petani milenial di bidang hortikultura.

Pembahasan akan fokus pada pengalaman 2020 yang disebut sebagai tahun yang tak terlupakan bagi dunia karena pandemi COVID-19. Di mana telah menimbulkan tantangan baru, termasuk bagi petani dan masyarakat perdesaan di Indonesia.

Oleh karena itu, penguatan kerja sama antara pemerintah dan mitra internasional menjadi lebih penting dari sebelumnya, untuk jelajahi cara-cara yang lebih inovatif untuk menghadapi pandemi dan dampak jangka pendek dan jangka panjang.

"Salah satu upayanya adalah dengan kerja sama dengan pihak swasta, LSM, perguruan tinggi, media, penelitian, instansi, politeknik, dan pihak terkait lainnya khususnya di dalam mengembangkan sayuran melalui SEAVEG 2021," katanya, Kamis (18/11/2021).

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti menambahkan simposium itu bekerja sama dengan Vegetable Science International Network (VEGINET) dan World Vegetable Center ini merupakan seri kelima yang menyoroti teknologi dan pendekatan baru pada sayuran untuk ketahanan dan diet sehat.

"Ini merupakan kegiatan sangat strategis untuk saling berbagi pengalaman ilmiah dan praktis terkait dengan sayuran, holtikultura terutama di kawasan Asia Tenggara. Karenai Asia Tenggara adalah penghasil sayuran terbesar di dunia," katanya.

BACA JUGA : Tingkatkan Ketahanan Pangan, Pemuda Sleman Terus 

Simposium dihadiri oleh 10 negara dari berbagai kalangan yaitu akademisi, swasta, pemerintah yang diharapkan mampu memberikan solusi terhadap kondisi pandemi COVID-19, di mana sayuran merupakan sumber nutrisi dan pangan sehat.

"Melalui kegiatan ini kita akan untuk menghubungkan semua pemangku kepentingan sayuran dalam penelitian, produksi, dan distribusi, tidak hanya di wilayah ini tetapi juga di luar," katanya.

Dia mengatakan, simposium ini akan menjadi wadah diskusi dan terbuka bagi dosen, peneliti, mahasiswa dan pemangku kepentingan lainnya yang tertarik untuk mendapatkan dan berbagi ilmu serta mempresentasikan ide dan pengalamannya dalam acara ilmiah ini.

"Diharapkan ke depan kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas SDM semata, tetapi juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang Bambang Sudarmanto mengatakan dalam simposium itu juga digelar pameran terbatas terkait pangan yang diolah secara modern dengan menggunakan teknologi. Hal ini untuk mendorong kesiapan generasi muda terkait penyediaan pangan yang sehat. Misalnya dengan menampilkan sejumlah pangan berbasis lokal serta minuman yang bermanfaat untuk imun tubuh.

Ia menyinggung soal ketangguhan sektor pertanian dalam menghadapi pandemi Covid-19. Mengingat sektor lain lumpuh total namun pertanian justru meningkat ekspor dan produktivitasnya. Harapannya ke depan sektor pertanian juga siap dalam menghadapi kemungkinan adanya iklim yang ekstrem.

“Sektor pertanian ini memang harus siap dalam kondisi apa pun termasuk ketika ada iklim ekstrem, saat pandemi pertanian sudah membuktikan ketangguhannya,” ujar dia.